Hari Kedua Workshop LKPD Interaktif: Membuat dan Mempublikasikan LKPD Berbasis 3D/AR di Assemblr EDU
Setelah pada hari pertama Workshop LKPD Interaktif Berbasis 3D/AR membangun pemahaman tentang konsep dan potensi LKPD interaktif, kegiatan berlanjut pada hari kedua yang direncanakan pada tanggal 30 Desember 2025, terpaksa ditunda dan diselenggarakan pada tangga 1 Januari 2026. Pada sesi ini, peserta diajak masuk ke tahap yang lebih praktis, yaitu membuat dan mempublikasikan project LKPD di Assemblr EDU. Jika hari pertama menjadi ruang untuk mengenal dan memahami, maka hari kedua menjadi kesempatan untuk mulai menciptakan. Bagi saya, inilah bagian yang paling menyenangkan dalam sebuah workshop: ketika ide mulai berubah menjadi karya nyata.
Kegiatan diawali dengan mengenal kembali Assemblr EDU, sebuah platform yang menghadirkan media pembelajaran interaktif berbasis 3D dan Augmented Reality (AR) ke dalam kelas dengan cara yang sederhana dan menarik. Peserta juga diajak mengenal berbagai fitur yang tersedia, mulai dari alat peraga 3D, topik pembelajaran, 3D/AR Editor, Visual Coding, hingga berbagai bentuk output yang dapat dihasilkan seperti presentasi 3D/AR, flashcard AR, LKPD AR, produk cetak AR, dan project interaktif.
Setelah mengenal platformnya, peserta mulai diarahkan untuk membuat project baru. Salah satu hal yang menarik adalah tersedianya beberapa pilihan editor, yaitu Super Simple, Default, dan Generate with AI. Dalam praktik kali ini, peserta menggunakan Default Editor untuk mulai membangun project. Prosesnya cukup sederhana dan dapat dilakukan dengan sistem drag-and-drop, sehingga guru tidak perlu memiliki kemampuan coding untuk dapat menghasilkan media pembelajaran berbasis 3D/AR.
Langkah berikutnya adalah mulai membangun isi project. Peserta belajar menambahkan objek 3D dari library Assemblr EDU. Sebagai contoh, digunakan aset khusus belajar.id berupa rumah adat. Objek tersebut kemudian dilengkapi dengan teks sebagai identitas dan informasi pendukung menggunakan fitur Scene. Peserta dapat mengatur posisi objek dan tulisan, kemudian menambahkan nama serta deskripsi agar objek 3D tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki informasi yang mendukung tujuan pembelajaran.
Keseruan berikutnya adalah membuat scene baru. Setiap scene dapat dirancang untuk menghadirkan objek atau informasi yang berbeda. Misalnya, setelah membuat scene tentang satu rumah adat, peserta dapat membuat scene berikutnya untuk rumah adat lainnya. Setiap scene kemudian dapat diberi keterangan sesuai kebutuhan. Dengan cara ini, satu project dapat berkembang menjadi sebuah media pembelajaran yang memiliki beberapa bagian dan dapat digunakan siswa untuk mengeksplorasi materi secara bertahap.
Bagian yang menjadi tujuan utama workshop tentu saja adalah mengubah project tersebut menjadi LKPD interaktif. Pada tahap ini, peserta belajar menampilkan LKPD menggunakan QR Marker, sehingga lembar kerja yang dicetak dapat terhubung dengan pengalaman belajar berbasis AR. Peserta juga diberikan template LKPD yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Template tersebut kemudian dapat diedit, dikembangkan, dan pada akhirnya dicetak atau dibagikan kepada siswa.
Bagi saya, konsep inilah yang membuat LKPD berbasis 3D/AR menjadi menarik. Satu lembar LKPD yang secara fisik terlihat sederhana dapat menjadi pintu masuk menuju pengalaman belajar digital yang lebih interaktif. Siswa tidak hanya membaca instruksi atau melihat gambar, tetapi dapat diarahkan untuk mengamati objek 3D dan mengeksplorasi informasi melalui perangkat yang mereka gunakan. Dengan demikian, LKPD tidak lagi sekadar menjadi lembar tugas, tetapi dapat berfungsi sebagai jembatan antara aktivitas belajar konvensional dengan pengalaman belajar berbasis teknologi.
Hal yang tidak kalah penting dalam workshop ini adalah memberikan kesempatan kepada peserta untuk langsung mempraktikkan apa yang dipelajari. Saya selalu meyakini bahwa belajar teknologi akan jauh lebih efektif ketika peserta tidak hanya melihat demonstrasi, tetapi langsung mencoba. Ada kemungkinan muncul kebingungan, salah klik, atau harus mengulang beberapa langkah. Namun justru dari proses mencoba itulah keterampilan mulai terbentuk. Tidak harus langsung sempurna—yang penting berani memulai.
Di akhir kegiatan, peserta juga diarahkan untuk melakukan presensi sekaligus mengumpulkan link project yang telah dibuat. Bagi saya, tahap ini menjadi bagian yang menyenangkan karena dapat melihat bahwa dalam waktu yang relatif singkat, peserta sudah mulai menghasilkan karya mereka sendiri. Dari sebuah ide sederhana, perlahan terbentuk sebuah project pembelajaran yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Menjadi penyelenggara sekaligus fasilitator dalam workshop ini kembali mengingatkan saya bahwa berbagi bukan berarti kita berhenti belajar. Justru ketika mengajarkan sesuatu kepada orang lain, kita semakin memahami apa yang kita lakukan. Pertanyaan peserta, proses praktik, hingga berbagai kemungkinan pengembangan LKPD menjadi sumber belajar baru bagi saya.
Dua hari Workshop LKPD Interaktif Berbasis 3D/AR akhirnya menjadi sebuah perjalanan kecil yang sangat berarti. Dari mengenal konsep, mengeksplorasi Assemblr EDU, membuat project, menambahkan objek 3D dan scene, hingga menghasilkan LKPD yang dapat diakses melalui QR Marker. Semuanya menjadi bukti bahwa teknologi pembelajaran dapat dimulai dari langkah yang sederhana.
Saya berharap workshop ini tidak berhenti ketika sesi berakhir. Semoga setiap peserta membawa pulang bukan hanya sebuah project, tetapi juga keberanian untuk terus bereksperimen dan menciptakan media pembelajaran mereka sendiri. Karena ketika guru mulai berani menjadi kreator, ruang belajar siswa pun akan semakin kaya.
.png)












0 comments:
Posting Komentar