SMK Negeri 1 Pleret

SMK Negeri 1 Pleret, berlokasi di Jalan Imogiri Timur, km.9 Dusun Jati, Desa Wonokromo, Kapanewon Pleret, Daerah Istimewa Yogyakarta
Terdapat 4 Kompetensi Keahlian, Yaitu:
1. Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL)
2. Teknik Jaringan Tenaga Listrik (TJTL)
3. Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ)
4. Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM)

Kelas Seni Budaya Bersama Bu Rienz

Jika anda menempuh pendidikan di SMKN 1 Pleret, nanti akan berjumpa dengan Bu Rienz di kelas Seni Budaya.
Kelas Seni Budaya hanya ditempuh di kelas X saja, dengan jumlah jam tatap muka 3 JPL dalam sepekan.

Kegiatan SAGUGABLOG Lanjut 70

Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyelenggarakan kegiatan yang sangat menarik, yaitu Sagusablog, atau SAtu GUru SAtu BLOG.
Kegiatan ini diawali dengan kelas sagusablog dasar, kemudian bagi peserta yang lulus, diperbolehkan untuk mengikuti kelas sagusablog lanjut.

Tampilkan postingan dengan label komunitas belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunitas belajar. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juni 2025

Catatan Saya dari Workshop di SMANCA

Belajar Bersama AI: Catatan Saya dari Workshop di SMA Negeri Cangkringan

Senin pagi, 16 Juni 2025, saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk berbagi dan belajar bersama rekan-rekan guru serta karyawan SMA Negeri Cangkringan dalam Workshop Artificial Intelligence (AI). Saya hadir sebagai narasumber, membawa semangat kolaborasi, kreativitas, dan tentu saja, rasa penasaran yang sama besar dengan peserta: bagaimana AI bisa menjadi sahabat baru dalam dunia pembelajaran.

Kegiatan ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB dan dibuka secara resmi oleh Plh Kepala Sekolah, Bapak Rahmad Budiyono, S.Pd., yang menyampaikan pentingnya kesiapan guru menyambut era baru teknologi dalam pendidikan, terutama dalam menyikapi kehadiran AI sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar. Suatu kehormatan bagi saya bisa berada di tengah komunitas pendidikan yang terbuka dan antusias seperti ini.

Membuka Wawasan Lewat Refleksi Awal

Workshop saya mulai dengan survey pengetahuan awal peserta tentang AI menggunakan mentimeter. Pertanyaan sederhana: “Apa yang Anda ketahui tentang AI?” dan “Sudahkah Anda memanfaatkannya dalam pembelajaran?” membuka ruang diskusi yang menarik. Jawaban-jawaban yang muncul menunjukkan beragam pengalaman—dari yang belum pernah menyentuh AI sama sekali, hingga yang sudah mencoba eksplorasi kecil lewat aplikasi ChatGPT atau Canva.

Menghubungkan AI dengan Dunia Guru

Selanjutnya saya menyampaikan pengantar mengenai AI, bagaimana prinsip kerjanya, serta potensinya dalam mendukung guru: dari merancang materi, membuat asesmen, hingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan kontekstual.

Bagian yang paling saya nikmati adalah saat kami bersama-sama menyusun rencana pembelajaran dan asesmen berbasis AI. Melihat peserta mulai menyusun ide-ide yang konkret, saya merasa bahwa AI bukanlah sesuatu yang “jauh dan rumit”, melainkan bisa menjadi alat yang memperkuat kreativitas guru.

Prompt dan Praktik: Menciptakan Video AI

Suasana makin semarak saat kami mulai mengenal dunia prompt—cara memberi instruksi kepada AI agar bisa menghasilkan konten kreatif, khususnya video edukatif. Saya mengenalkan Google Veo2, sebuah platform AI dari Google yang memungkinkan pengguna membuat video hanya dengan mengetikkan deskripsi.

Peserta tampak antusias mencoba sendiri membuat video sederhana berdasarkan materi pelajaran yang mereka ajarkan. Beberapa bahkan langsung berencana menggunakan video buatan mereka untuk pembelajaran tahun ajaran baru mendatang!

Refleksi Penuh Semangat

Di akhir sesi, kami melakukan refleksi bersama. Banyak peserta menyampaikan rasa senangnya karena ternyata AI tidak serumit yang dibayangkan. Ada pula yang merasa lebih percaya diri untuk mulai bereksperimen di kelas.

“Baru pertama kali praktik langsung bikin video pakai AI. Ternyata menyenangkan dan mudah dipahami! Terima kasih Bu Rini atas bimbingannya,” ungkap salah satu guru peserta.

“Ternyata belajar AI itu menyenangkan dan tidak sesulit yang saya bayangkan. Terima kasih, Bu Rini, sudah membimbing dengan sabar dan menyenangkan,” kata salah satu peserta lain yang membuat saya sangat terharu.

Penutup: AI untuk Kolaborasi dan Kemajuan

Bagi saya, workshop ini bukan hanya soal mengenalkan teknologi, tapi tentang membangun keberanian dan semangat belajar bersama. Saya percaya, AI bukan untuk menggantikan guru, tetapi justru untuk memberdayakan guru agar bisa menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan dan bermakna.


Melalui workshop ini, SMA Negeri Cangkringan menunjukkan komitmennya untuk terus belajar dan beradaptasi dengan teknologi terkini. Semoga kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bentuk nyata pengembangan profesionalisme guru di era digital.

Terima kasih kepada keluarga besar SMA Negeri Cangkringan atas sambutan hangat dan semangat luar biasa. Semoga semangat kolaboratif ini terus tumbuh dan menginspirasi sekolah-sekolah lainnya.

Rabu, 23 April 2025

Webinar Series#4 Balai Tekkomdik 2025

AI untuk Pembelajaran Mendalam: Refleksi Saya dari Webinar Series #4 Balai Tekkomdik DIY

Tanggal 23 April 2025 menjadi salah satu momen berharga dalam perjalanan saya sebagai pendidik sekaligus Duta Teknologi. Pada hari itu, saya mendapatkan kehormatan menjadi salah satu narasumber dalam Webinar Series #4 yang diselenggarakan oleh Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (Balai Tekkomdik) DIY, dengan tema “AI untuk Mendukung Pembelajaran Mendalam”.

Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Google Meet dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Jogja Belajar. Saya berbagi panggung virtual dengan rekan sesama Duta Teknologi DIY yang luar biasa, Yovita Della Carolina, yang turut memperkaya diskusi dengan pengalaman dan praktik baik dari kelasnya.

Mengajak Guru Melampaui Sekadar Teknologi

Dalam sesi saya, saya mengangkat pertanyaan utama:
"Apakah AI hanya sekadar alat bantu, atau bisa menjadi jembatan menuju pembelajaran yang lebih bermakna?"

Melalui pemaparan saya, saya mencoba membingkai Artificial Intelligence (AI) bukan hanya sebagai teknologi canggih yang memukau, tetapi sebagai alat yang dapat digunakan guru untuk memperdalam pemahaman siswa, memfasilitasi refleksi, dan merancang pembelajaran yang lebih kontekstual dan personal.

Saya membagikan beberapa praktik yang saya lakukan di kelas Seni Budaya, seperti penggunaan AI generatif untuk membuat video pembelajaran berbasis minat siswa, serta memanfaatkan AI untuk membantu menganalisis hasil refleksi siswa dan mengembangkan umpan balik yang lebih tepat sasaran.

Deep Learning Bukan Sekadar Mendalam, Tapi Membumi

Diskusi kami berkembang ke arah bagaimana AI bisa mendukung pendekatan deep learning, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa untuk:
  1. mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman,
  2. berpikir kritis dan reflektif,
  3. membangun makna secara aktif,
  4. dan merasakan relevansi antara pelajaran dan dunia nyata.

Saya menekankan bahwa teknologi hanyalah kendaraan, sedangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kedekatan guru-siswa tetap menjadi pengemudinya.

Interaksi Virtual yang Hangat dan Penuh Gagasan

Walaupun webinar ini dilaksanakan secara daring, interaksinya tetap terasa hangat. Pertanyaan-pertanyaan dari peserta menggambarkan semangat yang tinggi untuk menjelajahi dunia AI dalam pendidikan:

“Bagaimana memulai integrasi AI dalam pembelajaran tanpa harus ahli teknologi?”
“Apakah AI bisa membantu asesmen yang lebih mendalam dan humanis?”
“Bagaimana menghindari ketergantungan dan tetap menjaga peran aktif guru?”

Diskusi bersama Mbak Yovita juga sangat memperkaya. Beliau menampilkan praktik integrasi AI dari sudut pandang guru mata pelajaran eksakta, yang melengkapi pendekatan saya dari sisi seni dan humaniora.

Membangun Masa Depan, Mulai dari Sekarang

Saya menutup sesi dengan pesan sederhana tapi penting:
AI tidak menggantikan guru. Tapi guru yang terbuka pada pembelajaran baru—dan yang bisa memanfaatkan teknologi untuk menguatkan esensi pendidikan—akan menjadi agen perubahan sejati.

Terima kasih kepada Balai Tekkomdik DIY yang telah menyediakan ruang pembelajaran terbuka, inklusif, dan kolaboratif ini. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut, mendorong ekosistem pendidikan yang cerdas secara teknologi dan hangat secara nilai.
Mari terus belajar, tumbuh, dan menciptakan makna di tengah tantangan zaman.

Jumat, 24 Januari 2025

Webinar Kombel Sahabat PembaTIK DIY

Menemukan Makna Baru dalam Pembelajaran: Catatan Saya dari Webinar “Personalisasi Pembelajaran dengan Deep Learning”


Di tengah arus perubahan pendidikan yang terus berkembang, saya merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari sebuah ruang belajar yang terbuka dan bermakna—Webinar Praktik Baik bertema “Personalisasi Pembelajaran dengan Deep Learning: Sebuah Pendekatan Baru” yang diselenggarakan oleh Komunitas Belajar Sahabat PembaTIK DIY pada tanggal 22 dan 24 Januari 2025.

Saya bergabung sebagai salah satu narasumber bersama empat rekan Duta Teknologi DIY lainnya, dalam kegiatan daring yang disiarkan melalui Google Meet dan live streaming YouTube Sahabat PembaTIK DIY. Meski dilakukan secara virtual, semangat belajar dan berbagi terasa sangat kuat.

Menjawab Tantangan: Bagaimana Membuat Pembelajaran Lebih Bermakna dan Personal?

Dalam sesi saya, saya mengangkat topik yang sejak lama menjadi perhatian saya sebagai guru: bagaimana kita bisa menghadirkan pembelajaran yang benar-benar menyentuh kebutuhan dan potensi setiap siswa?

Saya memulai dengan refleksi sederhana: kita hidup di zaman di mana akses informasi sangat luas, namun tidak semua siswa merasa "dikenali" dalam proses belajar. Di sinilah pendekatan deep learning dan personalisasi pembelajaran menjadi sangat penting.

Personalisasi Bukan Sekadar Diferensiasi

Saya mencoba menjelaskan bahwa personalisasi pembelajaran bukan sekadar membedakan tugas untuk siswa cepat dan lambat, tetapi lebih dalam dari itu: bagaimana kita mengenali minat, gaya belajar, latar belakang, dan tujuan belajar tiap siswa, lalu merancang pengalaman belajar yang sesuai.

Melalui pendekatan deep learning, kita mengajak siswa tidak hanya mengingat, tapi juga memahami, mengaitkan, dan merefleksikan. Saya membagikan beberapa praktik sederhana yang saya lakukan di kelas seni budaya, mulai dari proyek berbasis minat, refleksi kreatif, hingga integrasi teknologi seperti AI untuk memperkaya pemahaman siswa.

Kolaborasi yang Menguatkan

Yang paling mengesankan bagi saya dalam webinar ini adalah semangat kolaborasi antar Duta Teknologi DIY. Masing-masing narasumber membawa warna yang berbeda: ada yang membagikan praktik baik di mata pelajaran eksak, ada yang menyampaikan tentang teknologi pendukung, dan ada pula yang fokus pada pemanfaatan media interaktif.

Diskusi dengan peserta berlangsung aktif. Banyak guru bertanya bagaimana mengawali personalisasi di kelas yang jumlah siswanya banyak, atau bagaimana mengatur waktu untuk refleksi tanpa mengorbankan target kurikulum. Pertanyaan-pertanyaan ini menguatkan bahwa kita semua sedang dalam proses belajar yang sama.

Dampak Sebuah Webinar

Melalui live chat YouTube dan Google Meet, saya membaca banyak komentar yang penuh semangat:

“Terima kasih Bu Rini, jadi paham bahwa personalisasi itu bukan hanya membedakan tugas.”
“Terinspirasi dengan pendekatan deep learning yang tidak hanya teoritis.”
“Bisa dicoba langsung di kelas minggu depan!”

Bagi saya, itu adalah momen yang menguatkan: bahwa webinar ini bukan hanya sebuah sesi daring, tapi juga ruang tumbuh bersama.

Menutup dengan Harapan

Saya menutup sesi saya dengan keyakinan bahwa setiap guru bisa memulai personalisasi pembelajaran, dari langkah-langkah kecil: mengenal murid lebih dalam, memberi ruang untuk suara mereka, dan menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Terima kasih untuk Komunitas Belajar Sahabat PembaTIK DIY atas kesempatan luar biasa ini. Semoga kolaborasi, semangat, dan praktik baik seperti ini terus berlanjut, membentuk ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi, reflektif, dan relevan.

Selasa, 21 Januari 2025

Workshop SPEGASA

Mengajar dengan Pemahaman: Catatan Saya dari Workshop SPEGASA di SMP Negeri 3 Samigaluh


Selasa, 21 Januari 2025, saya mendapatkan kehormatan untuk berbagi dalam sebuah kegiatan yang hangat dan bermakna bersama rekan-rekan guru SMP Negeri 3 Samigaluh. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Belajar SPEGASA dalam bentuk Workshop Peningkatan Kompetensi Guru, dengan tema “Memahami Konten dan Cara Mengajarkannya”.

Workshop berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, dan dibuka langsung oleh Bapak Setyo Budiyono, S.Pd., Kepala SMP Negeri 3 Samigaluh. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya guru memahami tidak hanya apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana cara mengajarkannya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik.

Refleksi Awal: Seberapa Paham Kita Akan Konten yang Kita Ajarkan?

Saya memulai sesi dengan survey ringan kepada peserta, menanyakan bagaimana mereka memahami konten pelajaran yang mereka ajarkan sehari-hari. Banyak guru menyampaikan bahwa meskipun sudah bertahun-tahun mengajar, mereka belum pernah benar-benar merenungkan bagaimana konten itu bisa disampaikan dengan lebih dalam dan kontekstual.
Dari situlah kami memulai perjalanan bersama hari itu.


Menelusuri Makna “Konten” dan Pentingnya Memahaminya

Saya menyampaikan pengantar tentang konten pembelajaran, tidak hanya sebagai kumpulan materi, tapi sebagai inti pengetahuan yang harus ditransformasikan menjadi pengalaman belajar. Kami mendiskusikan syarat-syarat guru memahami konten secara utuh—mulai dari penguasaan konsep, struktur keilmuan, keterkaitannya dengan kehidupan nyata, hingga cara membangun jembatan antara konten dan cara mengajarkannya.

Peserta juga diajak untuk memahami mengapa guru perlu lebih dari sekadar "menyampaikan materi". Karena pada hakikatnya, guru adalah penyampai makna, bukan hanya informasi.

Strategi Mengajar yang Efektif dan Deep Learning

Bagian selanjutnya kami fokuskan pada strategi pembelajaran efektif dan bagaimana guru bisa mengajar dengan pendekatan deep learning. Saya menekankan bahwa deep learning bukan hanya tentang kedalaman materi, tapi juga tentang bagaimana siswa berpikir, terlibat secara emosional, dan membangun pemahaman jangka panjang.

Kami berdiskusi tentang pendekatan yang mengaktifkan siswa, seperti pertanyaan pemantik, pembelajaran berbasis masalah, dan refleksi belajar. Saya sangat senang melihat antusiasme peserta yang mulai merancang ide-ide sederhana namun berdampak untuk diterapkan di kelas masing-masing.

Refleksi yang Menggugah

Di akhir kegiatan, kami melakukan sesi refleksi terbuka. Banyak guru menyampaikan bahwa sesi ini membuka sudut pandang baru, bahwa konten bukan hanya milik buku teks, melainkan harus diolah dengan cara yang kontekstual dan relevan dengan siswa.

“Selama ini saya mengajar sesuai buku. Tapi hari ini saya sadar, memahami konten secara mendalam itu adalah kunci agar pembelajaran kita bisa masuk ke hati dan pikiran siswa,” ungkap salah satu peserta dengan semangat.

Menutup Hari dengan Semangat Baru

Saya pulang dari SMP Negeri 3 Samigaluh dengan hati yang hangat. Energi dari para guru dan komunitas SPEGASA benar-benar menginspirasi. Semoga semangat untuk terus belajar, memahami, dan mengembangkan cara mengajar ini menjadi langkah awal menuju kelas-kelas yang lebih hidup, reflektif, dan memerdekakan siswa dalam berpikir.

Terima kasih, keluarga besar SMP Negeri 3 Samigaluh, atas undangan dan ruang kolaboratif yang luar biasa ini. Mari terus tumbuh bersama.



Kamis, 02 Januari 2025

Pengimbasan Pengkin di SMKN 1 Samigaluh

Belajar Tumbuh Bersama: Catatan Saya dari Pengimbasan Pengelolaan Kinerja Guru di SMK Negeri 1 Samigaluh

Tahun 2025 saya awali dengan penuh syukur dan semangat. Pada hari kamis tanggal 2 Januari, saya diberi kesempatan untuk menjadi narasumber dalam kegiatan Pengimbasan Pengelolaan Kinerja Guru yang diselenggarakan oleh SMK Negeri 1 Samigaluh. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru dan karyawan, dan berlangsung dari pukul 13.00 hingga 16.00 WIB.

Disambut dengan hangat oleh Ari Daruningsih, S.Pd., M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Samigaluh, saya merasa sangat terhormat bisa hadir dan berbagi di lingkungan sekolah yang begitu antusias dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dalam sambutannya, Kepala Sekolah menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang profesional, terukur, dan kolaboratif — sesuatu yang juga menjadi semangat utama dalam kegiatan hari itu.

Membuka Kesadaran Bersama tentang Kinerja Guru

Saya memulai sesi dengan survey pengetahuan awal peserta mengenai pengelolaan kinerja guru. Dari hasil tanggapan yang muncul, saya melihat bahwa sebagian besar guru masih memandang pengelolaan kinerja sebagai kegiatan administratif tahunan. Ini menjadi titik tolak diskusi kami hari itu: bahwa kinerja guru bukan sekadar laporan, tapi cerminan proses belajar, berkembang, dan memberikan dampak nyata.

Kami kemudian mendalami landasan regulasi yang melandasi sistem pengelolaan kinerja saat ini, termasuk kebijakan-kebijakan terbaru dari Kemendikbudristek. Peserta tampak aktif mencermati dan menanyakan hal-hal teknis yang selama ini belum sepenuhnya dipahami.

Mendalami Mekanisme dan Variabel Kinerja Guru

Sesi dilanjutkan dengan penjelasan tentang mekanisme pengelolaan kinerja guru, mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, hingga evaluasi. Saya juga memperkenalkan variabel-variabel utama dalam penilaian kinerja, yang meliputi kompetensi, keterlibatan, dan peran tambahan di lingkungan sekolah.

Diskusi berlangsung hangat dan terbuka. Beberapa guru menyampaikan pengalaman mereka saat menjalani penilaian kinerja sebelumnya, serta harapan agar sistem ke depan bisa lebih memotivasi, bukan sekadar menjadi kewajiban administratif.

Refleksi yang Menguatkan

Kegiatan diakhiri dengan refleksi terbuka. Banyak peserta menyampaikan bahwa mereka merasa lebih paham akan esensi dari pengelolaan kinerja guru. Beberapa bahkan menyebut bahwa kegiatan ini menyadarkan mereka untuk lebih merancang perencanaan kerja yang tidak hanya terukur, tapi juga bermakna dan berdampak bagi peserta didik.

“Kami jadi lebih paham bahwa pengelolaan kinerja bukan sekadar kewajiban tahunan, tapi bagian penting dari proses tumbuh bersama sebagai pendidik,” ujar salah satu peserta.

“Ternyata kita bisa mengelola kinerja kita dengan cara yang lebih reflektif, bukan sekadar formalitas,” ujar peserta lainnya, yang membuat saya merasa sangat terharu dan bersyukur.

Menutup dengan Harapan

Saya pribadi merasa bahwa kegiatan ini bukan sekadar berbagi ilmu, tapi juga momen untuk belajar bersama dan saling menguatkan. Sebagai guru, kita tumbuh dalam kolaborasi — dan pengelolaan kinerja bukanlah beban, melainkan ruang untuk terus berkembang dan berkontribusi lebih baik.

Terima kasih untuk keluarga besar SMK Negeri 1 Samigaluh atas kesempatan dan semangat luar biasa hari itu. Semoga kegiatan ini menjadi awal yang baik untuk tahun yang penuh pertumbuhan dan perubahan positif.

Kamis, 06 Juli 2023

Upgrading Penggerak Komunitas (KOMBEL) #Part 3 (end)

Sahabat Penggerak Komunitas Belajar

Kamis 6 Juli 2023, Hari ketiga aktivitas kami di kegiatan Upgrading Penggerak Komunitas Belajar bersama Duta Teknologi Kemendikbudristek tahun 2021 dan 2022. Sampai detik ini, kami masih semangat untuk menimba ilmu, meningkatkan kapasitas kami yang nantinya akan menjadi penggerak komunitas di satuan pendidikan masing-masing dan mengimbaskan kepada penggerak-penggerak komunitas antar sekolah yang lain. Dihari ketiga ini, kami masih terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas A dan kelas B. Jika hari kedua kemarin, kita mempelajari materi mengenai Membangun komunitas, merumuskan visi dan tujuan hingga manajemen konflik, kali ini materinya sangat luar biasa, yaitu mengenai fasilitasi dan sosial emosional.

Sesi 1 - Keterampilan Fasilitasi

Pagi ini, kelas B dipandu oleh mas Patria dalam mendalami materi fasilitasi. Diawali dengan bermain cing ciripit, kami membentuk lingakaran tidak sempurna di tengah ruangan dan bersama-sama menyatukan fokus dan konsentrasi, bahwa tubuh kita dan pikiran kita ada di ruangan ini. Banyak hal baru yang kami dapatkan di sini, bahwa fasilitasi, berasal dari kata dasar fasile (bahasa latin) yang artinya mudah, sederhana. Disini maksudnya adalah seorang fasilitator diharapkan bisa memudahkan komunitasnya, menjembatani anggota komunitas untuk ikut berkontribusi dalam mencapai tujuan bersama.

Sangat komunikatif dan menyenangkan kegiatan kali ini. Peserta langsung mempraktikkan proses fasilitasi melalui kelompok masing-masing. Kami berbagi peran sebagai Fasilitator, Observer dan yang lainnya berperan sebagai anggota. 

Sesi 2 - Pembelajaran Sosial Emosional

Setelah cofee break selama kurang lebih 15 menit, kami kembali masuk di kelas B. Di dalam ruangan sudah menunggu fasilitator sesi selanjutnya, yaitu materi tentang Pembelajaran Sosial Emosional. Dipandu oleh Mas Qadry, kami mengawali sesi dengan menuangkan emosi apa yang pernah kami alami dalam bentuk gambar, kemudian kami sampaikan kepada anggota kelompok masing-masing. O iya, anggota kelompoknya masih sama dengan kelompok di sesi Fasilitasi sebelumnya. 

Satu hal yang sangat menarik pada pembelajaran sesi ini, adalah ternyata kami selama ini masih kurang mengenal diri masing-masing. bahkan dengan benda yang sudah kami miliki bertahun-tahun pun kami kurang peka untuk mengenalinya secara detail. Luar biasa, memang hal utamanya adalah bagaimana kita bisa mengenali diri sendiri, sebelum kita mengenal orang lain.

Ada lima kompetensi sosial yang harus dimiliki seorang penggerak komunitas, antara lain:
1. Kesadaran Diri, untuk mengenali diri sendiri secara akurat, sehingga mampu mengenali keterkaitan antara perasaan, tindakan dan pikiran yang dilakukan.
2. Manajemen Diri, untuk mengatur emosi, pikiran, perilaku dalam berbagai situasi, sehingga dapat menangani stress, mengontrol hasrat dan bertahan menghadapi tantangan
3. Kesadaran Sosial, untuk berempati dengan orang lain, serta mengambil perspektif dari berbagai sudut pandang
4. Kemampuan Berelasi, untuk membangun dan memelihara suatu hubungan yang sehat antara individu dan kelompok
5. Membuat Keputusan yang Bertanggung Jawab, merupakan kemampuan untuk membuat pilihan yang konstruktif, benar dan cara bertindak sesuai etis norma sosial dan keselamatan.
Luar biasa materi kali ini, sangat bermanfaat untuk membekali kami sebagai sahabat penggerak komunitas

Sesi 3 - Optimalisasi Platform Merdeka Mengajar

Pada sesi ke-3 ini, masih di jam rawan, selepas istirahat makan siang dan sholat dhuhur, kami dikembalikan di kelas besar, dimana semua peserta tergabung dalam 1 ruangan kembali. Dengan dipandu oleh mas Qadry, kami dikelompokkan kembali seperti pada sesi di hari kedua kemarin. Dalam kegiatan Optimalisasi PMM ini, kami diberi tugas kelompok untuk membedah satu fitur di PMM, dan menuangkan hasil diskudi kami pada kertas Plano yang disediakan. Selanjutnya, kami melakukan aktivitas Window Shoping, dimana masing-masing kelompok menampilkan hasil diskusinya pada tembok atau papan, dan membagi anggota untuk menjadi penjaga "toko", serta anggota yang lain menjadi "pembeli" atau pencari informasi dari kelompok lain.

Sangat menyenangkan, apalagi di akhir sesi, kami bermain jago suit, dimana pada akhir permainan terpilih satu jagoan suit yang memiliki anggota seluruh peserta pelatihan.. woooww... seru banget..!


Sesi 4 - Rencana Tindak Lanjut

Nah, acara terakhir ini, adalah final tugas kami sebagai peserta Upgrading Penggerak Komunitas Belajar. Kami diberi tugas untuk membuat rencana tindak lanjut dari hasil pelatihan ini. Rencana tindak lanjut ini, dibagi dalam 3 rencana, yaitu rencana jangka pendek, rencana jangka panjang dan rencana jangka menengah. Kelanjutan dari RTL yang kami susun ini, harapannya dapat dilaksanakan di satuan pendidikan masing-masing, dan bisa dikembangkan ke luar instansi.

Daaan, akhirnya pada pukul 17.30, kegiatan upgrading penggerak komunitas ini resmi ditutup dengan upacara penutupan yang sangat sederhana. Dan kami pun mengakhiri sesi dengan foto bersama untuk dokumentasi dan kenang-kenangan.
Sampai jumpa Surakarta... kami akan merindukan kenangan indah ini...



Rabu, 05 Juli 2023

Upgrading Penggerak Komunitas (KOMBEL) #Part 2

Komunitas Belajar, Apa dan Mengapa?

Rabu 5 Juli 2023, masih di lokasi yang sama di Grand HAP Hotel Solo, peserta kegiatan Upgrading Penggerak Komunitas Belajar melanjutkan aktivitas di hari kedua ini. Setelah hari pertama kemarin mendapatkan inspirasi luar biasa dari founder Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta, hari ini peserta upgrading mendapatkan materi inti dari tujuan kegiatan ini, yaitu mengenal dan bagaimana membangun Komunitas Belajar di lingkungan peserta kegiatan. Dimulai pukul 07.30, di atrium Wijaya Kusuma lantai 9, kegiatan diawali dengan bergerak bersama, melakukan senam Si Pong dengan seru. Dilanjutkan ice breaking bernyanyi bersama Mas Patria dengan syair kurang lebih seperti ini:

duduk senang, berdiri senang
berputar-putar mencari teman
berputar-putar berkeliling, untuk mencari teman

dengan mencari teman secara berkelompok sesuai jumlah bilangan angka yang ditentukan, pada akhir aktivitas ice breaking terbentuk sepuluh kelompok untuk aktivitas sesi pertama.

Sesi 1 - Komunitas Belajar dalam Sekolah

Difasilitasi narasumber cantik, Mbak Hairun Nissa dan co. fasilitator Mas Hertana Patria, peserta kegiatan upgrading mengawali kegiatan sesi dengan membentuk kesepakatan kelas dan nilai yang dicapai. tersusunlah tujuh kesepakatan kelas antara lain:

  1. Tepat waktu memulai dan mengakhiri kegiatan
  2. Saling menghargai denhan menyimak yang sedang berbicara
  3. Gawai dalam keadaan mode senyap, dan jika menerima telepon di luar ruangan
  4. Antusias dan berbahagia
  5. Rajin, terampil, dan gembira selama sesi
  6. Berkolaborasi dan bergotongroyong dalam mengikuti sesi
  7. Menjaga kebersihan ruangan

Ketujuh kesepakatan kelas di atas, ditandatangan oleh perwakilan peserta bapak Ramlan Marbun, DTK 2022 dari Provinsi Sumatera Utara. 

Melalui aktivitas kelompok, peserta berdiskusi dan menyampaikan pemahaman mengenai apa itu Komunitas belajar. Dari hasil diskusi 10 kelompok yang terbentuk, diperoleh pemahaman bahwa Komunitas Belajar adalah sekelompok Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) yang belajar bersama dan berkolaborasi secara berkelanjutan dengan tujuan yang jelas dan terukur untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga berdampak pada hasil belajar murid.

Terdapat tiga Ide Besar pada komunitas belajar yang menjadi landasan dalam menjalankan seluruh kegiatan di dalamnya. Tiga Ide Besar ini meliputi, fokus pada pembelajaran, membudayakan kolaborasi dan tangung jawab kolektif, serta berorientasi pada hasil (pembelajaran murid). Jika ketiganya ini kuat sebagai landasan, maka akan memastikan komunitas belajar berkontribusi pada pembelajaran berkualitas yang dilakukan secara kolaboratif untuk meningkatkan hasil belajar murid.

Sementara itu, Siklus komunitas belajar dalam sekolah merupakan rangkaian pengelolaan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas PTK dan meningkatkan kualitas hasil belajar murid. Siklus yang dimaksud adalah (1) Refleksi awal, dimana pada kegiatan ini menghasilkan catatan refleksi yang menjadi acuan dalam perencanaan pembelajaran. (2) Perencanaan yang akan menghasilkan rencana pembelajaran yang dapat dimanfaatkan oleh guru. (3) Implementasi, yang merupakan pelaksanaan dari rencana pembelajaran yang telah dibuat bersama. (4) Evaluasi, yang menghasilkan catatan evaluasi dari implementasi untuk dijadikan bahan refleksi awal.

Melalui proses diskusi dari hasil pengamatan sebuah tayangan video berdurasi 17 menit, video tersebut menampilkan adanya seorang pimpinan yang mengajak dua guru dari kelas 4 dan kelas 6 untuk mendiskusikan capaian murid dikelasnya masing-masing, dan apa tantangan serta hambatan yang dihadapi. Terlihat pula, bahwa ide solusi yang dilakukan oleh guru satu, bisa juga menjadi solusi bagi guru lainnya. Inilah salah satu keuntungan sharing pengalaman dan bertukar ide antar sesama guru.
Dari video yang ditampilkan, dapat diambil insight bahwa alur diskusi dalam komunitas belajar dapat disingkat dengan START. Dimulai dari adanya penyampaian Situasi, bagaimana Tantangan yang dihadapi di dalam kelas, seperti apa Aksi guru dalam menyikapi tantangan tersebut, dilanjutkan dengan Refleksi guru terhadap apa yang sudah dilakukan, dan diakhiri dengan Tindak Lanjut. 
Kelompok 2
(Rolla; Anang; Nursiah; Eka; Meylan; Rini)

Dari kelompok lain juga menemukan insight yang berbeda, bahwa dalam suatu alur diskusi kombel, disitu muncullah siklus inquiry, dan bagaimana keterampilan coaching dengan alur tirta yang diterapkan. Sehingga pada akhirnya, suatu komunitas belajar hanya fokus pada murid, murid, dan murid, bukan yang lain.

Sesi 2 - Membangun Tujuan Fundamental & Target dalam Komunitas Belajar

Setelah Ishoma siang, kegiatan upgrading Penggerak Komunitas belajar dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai membangun tujuan fundamental, misi, nilai dan target dalam Komunitas Belajar. Pada jam rawan semacam ini, sesi 2 hari kedua dipandu oleh Bapak Rizqie Irfan sebagai co. Fasilitator mendampingi Ibu Evionora. Diawali dengan ice breaking tangan atas-bawah bum, peserta diajak untuk fokus dan berkonsentrasi. 

Pada materi kali ini, lebih banyak membahas mengenai adanya tim kecil dalam suatu komunitas yang nantinya akan menjadi motor penggerak dari sebuah komunitas. Tim kecil ini merupakan unsur kedua dalam membentuk suatu komunitas. Perlu diketahui bahwa untuk membentuk sebuah komunitas, diperlukan beberapa unsur, antara lain:
1. Penggerak
2. Tim kecil/Tim inti
3. Komitmen bersama
4. Menetapkan tujuan dan nilai bersama
5. Menyesuaikan kondisi yang ada

Dalam hal ini, peran tim kecil sangat tergantung pada dukungan dari pimpinan. Proses untuk memulai perubahan, tim kecil memberikan contoh, mengajak san sebagai fasilitator komunitas. Jika diperlukan, tim kecil ini juga bisa dibentuk oleh pimpinan, dengan menunjuk personel-personel yang dianggap mampu untuk menggerakkan rekan kerja yang lain.


Sementara itu, langkah selanjutnya adalah merefleksikan visi dari satuan pendidikan. Visi sekolah perlu direfleksikan untuk menjadi arah bersama yang dituju oleh semua pemangku kepentingan agar seluruh warga sekolah merasa memiliki visi ini dan tanggung jawab untuk mewujudkannya. Visi harus mengacu pada hasil belajar murid yang diinginkan. Refleksi bertujuan untuk memahami murid dari berbagai aspek, seperti kompetensi, tantangan yang dihadapi, dan profil murid yang ingin dicapai. Proses refleksi mengajak Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) kembali menyadari bahwa setiap pengembangan diri yang dilakukan selalu bertujuan untuk memaksimalkan capaian belajar murid. Data yang dibutuhkan untuk membantu proses refleksi, antara lain, laporan hasil belajar murid, rapor pendidikan, dan hasil dialog dengan murid dan atau orang tua murid.

Langkah ketiga dalam membangun komunitas adalah membangun nilai dan komitmen bersama. Pada saat memfasilitasi pembangunan nilai, kepala sekolah perlu memastikan seluruh PTK yang terlibat dalam komunitas belajar dalam sekolah merasa aman dan nyaman dalam proses belajar, berkolaborasi, dan berkontribusi. Nilai yang dibangun bersama akan lebih mudah dijaga komitmennya. Nilai tersebut menjadi acuan berperilaku bagi semua pada proses belajar dalam komunitas belajar.
Delapan tips Mempersiapkan Komunitas belajar.

Sesi 3 - Tahap Pengembangan Kelompok & Manajemen Konflik

Hari kedua yang padat, tidak menyurutkan semangat peserta upgrading penggerak komunitas belajar. Materi sesi 3 kali ini, peserta dibagi menjadi 2 kelas, yaitu kelas A dan kelas B. Kelas A menempati ruangan 1-2 dan kelas B menempati ruang 3-4. Pada pembagian kelas ini, Bu Rien'z tergabung dalam kelas B, yang dipandu oleh Ibu Faidah, atau Ibu Fai sebagai narasumber dan Mas Dimas Adi Nugraha sebagai co Fasilitator yang memimpin jalannya ice breaking sore ini. Dengan bernyanyi di sini senang, disana senang, lagi-lagi akhir dari aktivitas ini adalah membagi kelas ke dalam dua kelompok.

Sore ini, kedua kelompok bermain peran, dengan kelompok satu memerankan suku wowo, dengan karakter lembut, dan tidak mau disentuh. Sementara tim yang lain memerankan suku Wiwi yang keras, dan suka menyentuh lawannya. Ada satu aktivitas dari kedua suku, yaitu saling melakukan jual-beli. Dengan perbedaan karakter kedua suku, berhasilkah proses jual-beli tersebut?

Dalam suatu komunitas, pengembangan kelompok melalui lima tahapan, yaitu Forming, Storming, Norming, Performing dan Adjourning. Tahap Forming terjadi pada saat awal-pembentukan kelompok. Pada fase ini, individu sedang mencoba untuk mengenal satu sama lain. Ada kecenderungan untuk menghindari konflik dan mencari persetujuan. 

Tahap kedua yaitu Storming, dimana pada tahap ini individu mulai merasa nyaman dan berani mengekspresikan opini mereka. Dalam hal ini, tentu saja masing-masing individu bisa memiliki opini yang berbeda. Disinilah, konflik dalam komunitas dimulai. Fase ini merupakan fase tersulit yang dilalui dalam sebuah pengembangan kelompok.

Fase ketiga adalah Norming. Fase ini terjadi ketika anggota komunitas sudah mulai memikirkan cara penyelesaian konflik. Mereka mulai mengembangkan hubungan yang lebih baik. Untuk dapat masuk ke fase norming, seorang penggerak komunitas belajar sangat perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk manajemen konflik. Dalam manajemen konflik, bisa menggunakan pisau analisis Conflict tree seperti pada gambar di bawah ini.

Seorang penggerak Komunitas belajar harus mampu menganalisis latar belakang konflik yang terjadi di komunitasnya

Managing conclict adalah kompetensi yang dapat membuat seseorang menghadapi konflik dan pertentangan dengan orang lain secara efektif Hal ini dilakukan dengan menggunakan gaya dan metode interpersonal yang tepat untuk mengurangi ketegangan atau konflik antara dua orang atau lebih. Sehingga pada khirnya akan ditemukan penyelesaian terbaik.

Tahap selanjutnya adalah Performing, dimana kelompok benar-benar terbentuk dan mulai bekerja secara efektif. Pada fase ini, anggota kelompok telah memiliki hubungan yang baik satu sama lain, memahami tujuan kelompok, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut. Kelompok pada fase performing cenderung menghasilkan hasil yang signifikan dan berkualitas.

Dan tahapan terakhir adalah Adjourning. Fase adjourning terjadi ketika kelompok telah menyelesaikan tugas yang diberikan dan siap untuk membubarkan diri. Pada fase ini, anggota kelompok mungkin merasa sedih atau kehilangan karena harus berpisah dari rekan-rekan yang telah lama dikenal. Fase adjourning juga dapat berarti bahwa kelompok akan bubar secara permanen, atau bisa juga berarti bahwa kelompok akan terus berlanjut dengan tugas-tugas atau tujuan yang baru.

Aktivitas hari kedua akhirnya selesai. Kami pun segera kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, mempersiapkan diri untuk mengikuti aktivitas selanjutnya esok pagi.



Upgrading Penggerak Komunitas (KOMBEL) #Part 1

Kota Solo, Kami Datang

Selasa, 4 Juli 2023 sejumlah 66 Duta Teknologi dari 34 Provinsi di Indonesia kembali reunian secara luring. Kali ini lokasinya di Jawa Tengah, tepatnya kota Surakarta. Luar biasa sangat senang sekali, bisa berkesempatan berjumpa kembali dengan rekan-rekan DTK 2021 dan 2022 setelah 3 bulan berpisah, sejak perjumpaan terakhir kami di Jakarta pertengahan Maret lalu.

Kali ini, kami dipertemukan dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Komunitas Penggerak yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmensus). Bertempat di Grand H.A.P Hotel Jalan Slamet Riyadi, Laweyan Surakarta, kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai hari Selasa, 4 Juli hingga Jum'at, 7 Juli 2023.

Acara Pembukaan

Diawali dengan ceremonial pembukaan pada pukul 16.00-17.00 WIB, panitia kegiatan memfasilitasi ballroom yang luas dan nyaman di lantai 9 hotel ini. Berturut-turut menyampaikan sambutan, Bapak Saiful Baru, S.Kom., M.Eng., selaku Koordinator Pokja Transformasi Pembelajaran Direktorat Guru Dikmen dan Diksus. Dilanjutkan Subkoordinator Pokja Transformasi Pembelajaran Direktorat Guru Dikmen dan Diksus, bapak Uji Hartono, S.S., sekaligus membuka kegiatan Peningkatan Kapasitas Komunitas Penggerak. Cukup spesial juga, dengan hadirnya Direktur Guru Dikmen dan Diksus, Bapak Putra Asga Elevri, S.Si., M.Si. ditengah kesibukan beliau dalam perjalanan menuju Papua, beliau masih menyempatkan diri untuk menyampaikan sambutan dan berinteraksi dengan peserta yang luring di Solo melalui zoom.

Dalam kesempatan ini, Bapak Asga memberikan kesempatan kepada empat perwakilan peserta untuk menceritakan pengalaman selama menjadi penggerak komunitas. Apa tantangan dan hambatan yang dihadapi, hingga bagaimana menemukan solusinya. Dengan diskusi tersebut, tidak terasa kegiatan selama 60 menit terlaksana dengan begitu cepat.

Sesi 1 - Inspirasi Merdeka Belajar

Setelah peserta istirahat, sholat dan makan malam, kami kembali berkumpul di atrium Wijaya Kusuma lantai 9 untuk mengikuti agenda sesi 1, yaitu Inspirasi Merdeka Belajar. Dalam kesempatan ini menghadirkan narasumber yang sangat luar biasa, yaitu Founder Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta, Ibu Sri Wahyaningsih atau akrab dipanggil bu Wahya. Salam Yogyakarta didirikan pada 20 Juni 2020 oleh ibu Wahya bersama suami, bapak Toto Rahardjo di kapanewon Kasihan Bantul. 

Mengusung prinsip dasar Jaga Diri, Jaga Teman, Jaga Lingkungan dan empat pilar pendidikan meliputi pangan, kesehatan, lingkungan hidup dan sosial budaya. Menjawab bagaimana inspirasi Sanggar Anak Alam didirikan, beliau menyampaikan bahwa konsepnya berawal dari kenyataan, dimana kita hidup di tanah yang gemah ripah loh jinawi, dan mengapa pendidikan di Indonesia selalu diseragamkan? Sementara lingkungan kita sangat beragam dari Sabang sampai Merauke. Sehingga pada akhirnya pendidikan justru membuat anak tidak mengenal daerah sendiri.

Dengan konsep sekolah tanpa mata pelajaran, Sanggar Anak Alam memberikan pengajaran dasar calistung, dan mata pelajaran lain secara terintegrasi. Jadi, tidak semata-mata belajar matematika, bahasa, sejarah, budaya dll melalui hasil riset yang dilakukan oleh murid. Pelibatan orang tua dilakukan dengan usulan sumber belajar dis ekitar lingkungan tempat tinggal, menjadi pilihan sumber riset yang dilakukan oleh murid. Pada saat murid melakukan riset, meraka belajar langsung dari masalah-masalah yang dihadapi.

Mengenai bagaimana capaian belajar bisa tercapai, Sanggar Anak Alam menggunakan tiga pertanyaan mampu apa? Terampil apa? Menentukan Siklus apa? Sehingga muncullah daur belajar, yaitu merencanakan, melakukan, ungkap data, analisis, dan penyimpulan. Pada akhir tahun, murid Salam Yogyakarta melakukan gelar karya sebagai bukti pencapaian belajar murid, yang dapat disaksikan oleh orang tua, dan masyarakat secara terbuka.

Sesi inspirasi Merdeka kali ini sangat menarik dan menumbuhkan semangat bagi para peserta upgrading penggerak komunitas. Tidak terasa, waktu kegiatan melebihi schedule yang ditetapkan pada panduan. Meski demikian, semua peserta masih semangat dan antusias mengikuti sesi hingga pukul 21.30 WIB. 


Sinau Wayang (One Day One Wayang) #48

Batara Yama Hallo Sobat Budaya. Pecinta Wayang Jawa Sinau Wayang Part #48, Selasa Kliwon tanggal 17 Februari 2026, Rienz Kinarya melanjutkan...