SMK Negeri 1 Pleret

SMK Negeri 1 Pleret, berlokasi di Jalan Imogiri Timur, km.9 Dusun Jati, Desa Wonokromo, Kapanewon Pleret, Daerah Istimewa Yogyakarta
Terdapat 4 Kompetensi Keahlian, Yaitu:
1. Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL)
2. Teknik Jaringan Tenaga Listrik (TJTL)
3. Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ)
4. Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM)

Kelas Seni Budaya Bersama Bu Rienz

Jika anda menempuh pendidikan di SMKN 1 Pleret, nanti akan berjumpa dengan Bu Rienz di kelas Seni Budaya.
Kelas Seni Budaya hanya ditempuh di kelas X saja, dengan jumlah jam tatap muka 3 JPL dalam sepekan.

Kegiatan SAGUGABLOG Lanjut 70

Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyelenggarakan kegiatan yang sangat menarik, yaitu Sagusablog, atau SAtu GUru SAtu BLOG.
Kegiatan ini diawali dengan kelas sagusablog dasar, kemudian bagi peserta yang lulus, diperbolehkan untuk mengikuti kelas sagusablog lanjut.

Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juni 2025

Catatan Saya dari Workshop di SMANCA

Belajar Bersama AI: Catatan Saya dari Workshop di SMA Negeri Cangkringan

Senin pagi, 16 Juni 2025, saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk berbagi dan belajar bersama rekan-rekan guru serta karyawan SMA Negeri Cangkringan dalam Workshop Artificial Intelligence (AI). Saya hadir sebagai narasumber, membawa semangat kolaborasi, kreativitas, dan tentu saja, rasa penasaran yang sama besar dengan peserta: bagaimana AI bisa menjadi sahabat baru dalam dunia pembelajaran.

Kegiatan ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB dan dibuka secara resmi oleh Plh Kepala Sekolah, Bapak Rahmad Budiyono, S.Pd., yang menyampaikan pentingnya kesiapan guru menyambut era baru teknologi dalam pendidikan, terutama dalam menyikapi kehadiran AI sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar. Suatu kehormatan bagi saya bisa berada di tengah komunitas pendidikan yang terbuka dan antusias seperti ini.

Membuka Wawasan Lewat Refleksi Awal

Workshop saya mulai dengan survey pengetahuan awal peserta tentang AI menggunakan mentimeter. Pertanyaan sederhana: “Apa yang Anda ketahui tentang AI?” dan “Sudahkah Anda memanfaatkannya dalam pembelajaran?” membuka ruang diskusi yang menarik. Jawaban-jawaban yang muncul menunjukkan beragam pengalaman—dari yang belum pernah menyentuh AI sama sekali, hingga yang sudah mencoba eksplorasi kecil lewat aplikasi ChatGPT atau Canva.

Menghubungkan AI dengan Dunia Guru

Selanjutnya saya menyampaikan pengantar mengenai AI, bagaimana prinsip kerjanya, serta potensinya dalam mendukung guru: dari merancang materi, membuat asesmen, hingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan kontekstual.

Bagian yang paling saya nikmati adalah saat kami bersama-sama menyusun rencana pembelajaran dan asesmen berbasis AI. Melihat peserta mulai menyusun ide-ide yang konkret, saya merasa bahwa AI bukanlah sesuatu yang “jauh dan rumit”, melainkan bisa menjadi alat yang memperkuat kreativitas guru.

Prompt dan Praktik: Menciptakan Video AI

Suasana makin semarak saat kami mulai mengenal dunia prompt—cara memberi instruksi kepada AI agar bisa menghasilkan konten kreatif, khususnya video edukatif. Saya mengenalkan Google Veo2, sebuah platform AI dari Google yang memungkinkan pengguna membuat video hanya dengan mengetikkan deskripsi.

Peserta tampak antusias mencoba sendiri membuat video sederhana berdasarkan materi pelajaran yang mereka ajarkan. Beberapa bahkan langsung berencana menggunakan video buatan mereka untuk pembelajaran tahun ajaran baru mendatang!

Refleksi Penuh Semangat

Di akhir sesi, kami melakukan refleksi bersama. Banyak peserta menyampaikan rasa senangnya karena ternyata AI tidak serumit yang dibayangkan. Ada pula yang merasa lebih percaya diri untuk mulai bereksperimen di kelas.

“Baru pertama kali praktik langsung bikin video pakai AI. Ternyata menyenangkan dan mudah dipahami! Terima kasih Bu Rini atas bimbingannya,” ungkap salah satu guru peserta.

“Ternyata belajar AI itu menyenangkan dan tidak sesulit yang saya bayangkan. Terima kasih, Bu Rini, sudah membimbing dengan sabar dan menyenangkan,” kata salah satu peserta lain yang membuat saya sangat terharu.

Penutup: AI untuk Kolaborasi dan Kemajuan

Bagi saya, workshop ini bukan hanya soal mengenalkan teknologi, tapi tentang membangun keberanian dan semangat belajar bersama. Saya percaya, AI bukan untuk menggantikan guru, tetapi justru untuk memberdayakan guru agar bisa menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan dan bermakna.


Melalui workshop ini, SMA Negeri Cangkringan menunjukkan komitmennya untuk terus belajar dan beradaptasi dengan teknologi terkini. Semoga kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bentuk nyata pengembangan profesionalisme guru di era digital.

Terima kasih kepada keluarga besar SMA Negeri Cangkringan atas sambutan hangat dan semangat luar biasa. Semoga semangat kolaboratif ini terus tumbuh dan menginspirasi sekolah-sekolah lainnya.

Jumat, 24 Januari 2025

Webinar Kombel Sahabat PembaTIK DIY

Menemukan Makna Baru dalam Pembelajaran: Catatan Saya dari Webinar “Personalisasi Pembelajaran dengan Deep Learning”


Di tengah arus perubahan pendidikan yang terus berkembang, saya merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari sebuah ruang belajar yang terbuka dan bermakna—Webinar Praktik Baik bertema “Personalisasi Pembelajaran dengan Deep Learning: Sebuah Pendekatan Baru” yang diselenggarakan oleh Komunitas Belajar Sahabat PembaTIK DIY pada tanggal 22 dan 24 Januari 2025.

Saya bergabung sebagai salah satu narasumber bersama empat rekan Duta Teknologi DIY lainnya, dalam kegiatan daring yang disiarkan melalui Google Meet dan live streaming YouTube Sahabat PembaTIK DIY. Meski dilakukan secara virtual, semangat belajar dan berbagi terasa sangat kuat.

Menjawab Tantangan: Bagaimana Membuat Pembelajaran Lebih Bermakna dan Personal?

Dalam sesi saya, saya mengangkat topik yang sejak lama menjadi perhatian saya sebagai guru: bagaimana kita bisa menghadirkan pembelajaran yang benar-benar menyentuh kebutuhan dan potensi setiap siswa?

Saya memulai dengan refleksi sederhana: kita hidup di zaman di mana akses informasi sangat luas, namun tidak semua siswa merasa "dikenali" dalam proses belajar. Di sinilah pendekatan deep learning dan personalisasi pembelajaran menjadi sangat penting.

Personalisasi Bukan Sekadar Diferensiasi

Saya mencoba menjelaskan bahwa personalisasi pembelajaran bukan sekadar membedakan tugas untuk siswa cepat dan lambat, tetapi lebih dalam dari itu: bagaimana kita mengenali minat, gaya belajar, latar belakang, dan tujuan belajar tiap siswa, lalu merancang pengalaman belajar yang sesuai.

Melalui pendekatan deep learning, kita mengajak siswa tidak hanya mengingat, tapi juga memahami, mengaitkan, dan merefleksikan. Saya membagikan beberapa praktik sederhana yang saya lakukan di kelas seni budaya, mulai dari proyek berbasis minat, refleksi kreatif, hingga integrasi teknologi seperti AI untuk memperkaya pemahaman siswa.

Kolaborasi yang Menguatkan

Yang paling mengesankan bagi saya dalam webinar ini adalah semangat kolaborasi antar Duta Teknologi DIY. Masing-masing narasumber membawa warna yang berbeda: ada yang membagikan praktik baik di mata pelajaran eksak, ada yang menyampaikan tentang teknologi pendukung, dan ada pula yang fokus pada pemanfaatan media interaktif.

Diskusi dengan peserta berlangsung aktif. Banyak guru bertanya bagaimana mengawali personalisasi di kelas yang jumlah siswanya banyak, atau bagaimana mengatur waktu untuk refleksi tanpa mengorbankan target kurikulum. Pertanyaan-pertanyaan ini menguatkan bahwa kita semua sedang dalam proses belajar yang sama.

Dampak Sebuah Webinar

Melalui live chat YouTube dan Google Meet, saya membaca banyak komentar yang penuh semangat:

“Terima kasih Bu Rini, jadi paham bahwa personalisasi itu bukan hanya membedakan tugas.”
“Terinspirasi dengan pendekatan deep learning yang tidak hanya teoritis.”
“Bisa dicoba langsung di kelas minggu depan!”

Bagi saya, itu adalah momen yang menguatkan: bahwa webinar ini bukan hanya sebuah sesi daring, tapi juga ruang tumbuh bersama.

Menutup dengan Harapan

Saya menutup sesi saya dengan keyakinan bahwa setiap guru bisa memulai personalisasi pembelajaran, dari langkah-langkah kecil: mengenal murid lebih dalam, memberi ruang untuk suara mereka, dan menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Terima kasih untuk Komunitas Belajar Sahabat PembaTIK DIY atas kesempatan luar biasa ini. Semoga kolaborasi, semangat, dan praktik baik seperti ini terus berlanjut, membentuk ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi, reflektif, dan relevan.

Sabtu, 19 Agustus 2023

Lokakarya Orientasi PGP A-9


Calon Guru Penggerak A-9 Kabupaten Bantul Mengikuti Lokakarya Orientasi Pendidikan Guru Penggerak

Pada hari Sabtu, 19 Agustus 2023, Balai Besar Guru Penggerak DIY menyelenggarakan Lokakarya Orientasi Calon Guru Penggerak angkatan ke-9. Kegiatan ini diadakan secara daring mulai pukul 08.00 hingga 16.00 dan diikuti oleh sejumlah calon guru penggerak yang antusias untuk berpartisipasi dalam program ini.

1. Pembukaan Lokakarya

Lokakarya dibuka tepat pada pukul 08.00 dengan sambutan dari Kepala Balai Besar Guru Penggerak DIY. Beliau menekankan pentingnya peran guru penggerak dalam memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Acara pembukaan juga diwarnai dengan pemutaran video singkat yang menggambarkan perjalanan dan pencapaian program Guru Penggerak sebelumnya.

2. Agenda dan Tujuan Lokakarya

Selanjutnya, moderator memaparkan agenda dan tujuan lokakarya. Tujuan utama dari lokakarya ini adalah untuk memberikan orientasi kepada calon guru penggerak tentang program Guru Penggerak, memperkenalkan mereka pada perjalanan yang akan mereka tempuh, dan membekali mereka dengan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan.

3. Perkenalan Diri

Setelah penjelasan agenda, peserta diminta untuk memperkenalkan diri. Setiap peserta memberikan gambaran singkat tentang latar belakang mereka, pengalaman mengajar, dan motivasi mereka untuk bergabung dalam program Guru Penggerak. Sesi ini bertujuan untuk menciptakan suasana akrab dan saling mengenal antar peserta.

4. Kesepakatan Kelas

Untuk memastikan lokakarya berjalan dengan lancar, fasilitator memimpin sesi kesepakatan kelas. Para peserta bersama-sama menyusun dan menyepakati aturan-aturan yang akan diikuti selama lokakarya, seperti etika komunikasi, waktu istirahat, dan penggunaan fitur dalam platform daring.

5. Harapan dan Kekhawatiran

Dalam sesi ini, peserta diajak untuk menuliskan harapan dan kekhawatiran mereka terkait program Guru Penggerak. Beberapa peserta mengungkapkan harapan besar mereka untuk dapat berkontribusi lebih dalam dunia pendidikan, sementara yang lain menyampaikan kekhawatiran terkait tantangan yang mungkin dihadapi selama program berlangsung.

6. Pengantar Program PGP & Perjalanan Calon Guru Penggerak

Materi utama dimulai dengan pengantar tentang Program Guru Penggerak (PGP) dan perjalanan yang akan ditempuh oleh calon guru penggerak. Narasumber dari Balai Besar Guru Penggerak DIY menjelaskan berbagai tahap dan komponen program, serta bagaimana setiap tahap dirancang untuk mengembangkan kompetensi peserta.

7. Posisi Diri

Peserta kemudian diajak untuk melakukan refleksi tentang posisi diri mereka saat ini sebagai guru. Mereka diminta untuk merenungkan kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan dalam praktek mengajar mereka, serta bagaimana mereka dapat mengaplikasikan pembelajaran dari program ini untuk perbaikan diri.

8. Rencana Pengembangan Kompetensi Diri

Setelah refleksi, peserta menyusun rencana pengembangan kompetensi diri. Mereka diminta untuk membuat rencana konkret tentang keterampilan dan pengetahuan yang ingin mereka kembangkan selama mengikuti program Guru Penggerak, serta langkah-langkah spesifik yang akan mereka ambil untuk mencapainya.

9. Refleksi Peserta

Sebelum penutupan, peserta diberikan waktu untuk melakukan refleksi tentang seluruh kegiatan lokakarya hari itu. Mereka berbagi apa yang telah mereka pelajari, inspirasi yang didapatkan, dan bagaimana mereka akan menerapkan pengetahuan baru tersebut dalam praktek mengajar mereka.

10. Penutup

Lokakarya diakhiri dengan sesi penutupan yang kembali dipimpin oleh Kepala Balai Besar Guru Penggerak DIY. Beliau memberikan apresiasi kepada seluruh peserta atas partisipasi aktif mereka dan menekankan pentingnya komitmen dan kolaborasi dalam menjalankan peran sebagai guru penggerak. Lokakarya ditutup dengan pesan motivasi untuk selalu berinovasi dan menginspirasi dalam dunia pendidikan.

Dengan berakhirnya lokakarya ini, diharapkan para calon guru penggerak angkatan ke-9 siap untuk memulai perjalanan mereka dengan semangat baru dan komitmen kuat untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Dokumentasi








Kamis, 10 Agustus 2023

Penetapan Peserta PGP A-9

 Selamat Menempuh Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9

Salam dan bahagia... 
Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 telah resmi ditutup beberapa hari yang lalu. Siang ini, telah beredar Surat Penetapan Peserta PGP Angkatan 9 tahun 2023 yang dikeluarkan oleh Dirjen GTK dengan nomor 2257/B3/GT.03.00/2023, tertanggal 3 Agustus 2023. Dalam surat tersebut, disampaikan bahwa peserta Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9 ini akan diikuti oleh 31.052 peserta yang terdiri dari Calon Guru Penggerak angkatan 5, 6, 7, 8, dan 9 yang belum mendapatkan kesempatan pada pendidikan sebelumnya. Pada kesempatan ini, ke-enam Calon Guru Penggerak di SMK Negeri 1 Pleret terdaftar sebagai peserta PGP A-9. Senang sekali, pada akhirnya kami ber-6 mengikuti PGP di gelombang yang sama. 

Surat penetapan peserta Pendidikan Guru Penggerak tersebut diikuti dengan beredarnya jadwal Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9, yang dilaksanakan selama enam bulan dimulai pada bulan Agustus 2023 hingga April 2024. Peserta PGP A-9 nantinya akan mempelajari dan mengimplementasikan 3 paket modul, dengan total materi 10 topik. Diantara modul tersebut juga dijadwalkan ada kegiatan ruang kolaborasi dan lokakarya secara berkala
Berikut surat penetapan peserta Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9

Tahap persiapan yang harus dilakukan oleh Peserta PGP A-9 adalah sebagai berikut:
1. Mengecek simpkb guru penggerak masing-masing, untuk mengunduh pakta integritas
2. Mengisi dan menandatangai pakta integritas di atas materai 10.000
3. Mengunggah pakta integritas yang sudah ditandatangani
4. Mengikuti Pembukaan dan Orientasi PGP Angkatan 9 yang akan dilaksanakan pada Hari Rabu, 16 Agustus 2023
Selanjutnya adalah Jadwal Pelaksanaan PGP angkatan 9

Rabu, 05 Juli 2023

Upgrading Penggerak Komunitas (KOMBEL) #Part 2

Komunitas Belajar, Apa dan Mengapa?

Rabu 5 Juli 2023, masih di lokasi yang sama di Grand HAP Hotel Solo, peserta kegiatan Upgrading Penggerak Komunitas Belajar melanjutkan aktivitas di hari kedua ini. Setelah hari pertama kemarin mendapatkan inspirasi luar biasa dari founder Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta, hari ini peserta upgrading mendapatkan materi inti dari tujuan kegiatan ini, yaitu mengenal dan bagaimana membangun Komunitas Belajar di lingkungan peserta kegiatan. Dimulai pukul 07.30, di atrium Wijaya Kusuma lantai 9, kegiatan diawali dengan bergerak bersama, melakukan senam Si Pong dengan seru. Dilanjutkan ice breaking bernyanyi bersama Mas Patria dengan syair kurang lebih seperti ini:

duduk senang, berdiri senang
berputar-putar mencari teman
berputar-putar berkeliling, untuk mencari teman

dengan mencari teman secara berkelompok sesuai jumlah bilangan angka yang ditentukan, pada akhir aktivitas ice breaking terbentuk sepuluh kelompok untuk aktivitas sesi pertama.

Sesi 1 - Komunitas Belajar dalam Sekolah

Difasilitasi narasumber cantik, Mbak Hairun Nissa dan co. fasilitator Mas Hertana Patria, peserta kegiatan upgrading mengawali kegiatan sesi dengan membentuk kesepakatan kelas dan nilai yang dicapai. tersusunlah tujuh kesepakatan kelas antara lain:

  1. Tepat waktu memulai dan mengakhiri kegiatan
  2. Saling menghargai denhan menyimak yang sedang berbicara
  3. Gawai dalam keadaan mode senyap, dan jika menerima telepon di luar ruangan
  4. Antusias dan berbahagia
  5. Rajin, terampil, dan gembira selama sesi
  6. Berkolaborasi dan bergotongroyong dalam mengikuti sesi
  7. Menjaga kebersihan ruangan

Ketujuh kesepakatan kelas di atas, ditandatangan oleh perwakilan peserta bapak Ramlan Marbun, DTK 2022 dari Provinsi Sumatera Utara. 

Melalui aktivitas kelompok, peserta berdiskusi dan menyampaikan pemahaman mengenai apa itu Komunitas belajar. Dari hasil diskusi 10 kelompok yang terbentuk, diperoleh pemahaman bahwa Komunitas Belajar adalah sekelompok Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) yang belajar bersama dan berkolaborasi secara berkelanjutan dengan tujuan yang jelas dan terukur untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga berdampak pada hasil belajar murid.

Terdapat tiga Ide Besar pada komunitas belajar yang menjadi landasan dalam menjalankan seluruh kegiatan di dalamnya. Tiga Ide Besar ini meliputi, fokus pada pembelajaran, membudayakan kolaborasi dan tangung jawab kolektif, serta berorientasi pada hasil (pembelajaran murid). Jika ketiganya ini kuat sebagai landasan, maka akan memastikan komunitas belajar berkontribusi pada pembelajaran berkualitas yang dilakukan secara kolaboratif untuk meningkatkan hasil belajar murid.

Sementara itu, Siklus komunitas belajar dalam sekolah merupakan rangkaian pengelolaan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas PTK dan meningkatkan kualitas hasil belajar murid. Siklus yang dimaksud adalah (1) Refleksi awal, dimana pada kegiatan ini menghasilkan catatan refleksi yang menjadi acuan dalam perencanaan pembelajaran. (2) Perencanaan yang akan menghasilkan rencana pembelajaran yang dapat dimanfaatkan oleh guru. (3) Implementasi, yang merupakan pelaksanaan dari rencana pembelajaran yang telah dibuat bersama. (4) Evaluasi, yang menghasilkan catatan evaluasi dari implementasi untuk dijadikan bahan refleksi awal.

Melalui proses diskusi dari hasil pengamatan sebuah tayangan video berdurasi 17 menit, video tersebut menampilkan adanya seorang pimpinan yang mengajak dua guru dari kelas 4 dan kelas 6 untuk mendiskusikan capaian murid dikelasnya masing-masing, dan apa tantangan serta hambatan yang dihadapi. Terlihat pula, bahwa ide solusi yang dilakukan oleh guru satu, bisa juga menjadi solusi bagi guru lainnya. Inilah salah satu keuntungan sharing pengalaman dan bertukar ide antar sesama guru.
Dari video yang ditampilkan, dapat diambil insight bahwa alur diskusi dalam komunitas belajar dapat disingkat dengan START. Dimulai dari adanya penyampaian Situasi, bagaimana Tantangan yang dihadapi di dalam kelas, seperti apa Aksi guru dalam menyikapi tantangan tersebut, dilanjutkan dengan Refleksi guru terhadap apa yang sudah dilakukan, dan diakhiri dengan Tindak Lanjut. 
Kelompok 2
(Rolla; Anang; Nursiah; Eka; Meylan; Rini)

Dari kelompok lain juga menemukan insight yang berbeda, bahwa dalam suatu alur diskusi kombel, disitu muncullah siklus inquiry, dan bagaimana keterampilan coaching dengan alur tirta yang diterapkan. Sehingga pada akhirnya, suatu komunitas belajar hanya fokus pada murid, murid, dan murid, bukan yang lain.

Sesi 2 - Membangun Tujuan Fundamental & Target dalam Komunitas Belajar

Setelah Ishoma siang, kegiatan upgrading Penggerak Komunitas belajar dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai membangun tujuan fundamental, misi, nilai dan target dalam Komunitas Belajar. Pada jam rawan semacam ini, sesi 2 hari kedua dipandu oleh Bapak Rizqie Irfan sebagai co. Fasilitator mendampingi Ibu Evionora. Diawali dengan ice breaking tangan atas-bawah bum, peserta diajak untuk fokus dan berkonsentrasi. 

Pada materi kali ini, lebih banyak membahas mengenai adanya tim kecil dalam suatu komunitas yang nantinya akan menjadi motor penggerak dari sebuah komunitas. Tim kecil ini merupakan unsur kedua dalam membentuk suatu komunitas. Perlu diketahui bahwa untuk membentuk sebuah komunitas, diperlukan beberapa unsur, antara lain:
1. Penggerak
2. Tim kecil/Tim inti
3. Komitmen bersama
4. Menetapkan tujuan dan nilai bersama
5. Menyesuaikan kondisi yang ada

Dalam hal ini, peran tim kecil sangat tergantung pada dukungan dari pimpinan. Proses untuk memulai perubahan, tim kecil memberikan contoh, mengajak san sebagai fasilitator komunitas. Jika diperlukan, tim kecil ini juga bisa dibentuk oleh pimpinan, dengan menunjuk personel-personel yang dianggap mampu untuk menggerakkan rekan kerja yang lain.


Sementara itu, langkah selanjutnya adalah merefleksikan visi dari satuan pendidikan. Visi sekolah perlu direfleksikan untuk menjadi arah bersama yang dituju oleh semua pemangku kepentingan agar seluruh warga sekolah merasa memiliki visi ini dan tanggung jawab untuk mewujudkannya. Visi harus mengacu pada hasil belajar murid yang diinginkan. Refleksi bertujuan untuk memahami murid dari berbagai aspek, seperti kompetensi, tantangan yang dihadapi, dan profil murid yang ingin dicapai. Proses refleksi mengajak Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) kembali menyadari bahwa setiap pengembangan diri yang dilakukan selalu bertujuan untuk memaksimalkan capaian belajar murid. Data yang dibutuhkan untuk membantu proses refleksi, antara lain, laporan hasil belajar murid, rapor pendidikan, dan hasil dialog dengan murid dan atau orang tua murid.

Langkah ketiga dalam membangun komunitas adalah membangun nilai dan komitmen bersama. Pada saat memfasilitasi pembangunan nilai, kepala sekolah perlu memastikan seluruh PTK yang terlibat dalam komunitas belajar dalam sekolah merasa aman dan nyaman dalam proses belajar, berkolaborasi, dan berkontribusi. Nilai yang dibangun bersama akan lebih mudah dijaga komitmennya. Nilai tersebut menjadi acuan berperilaku bagi semua pada proses belajar dalam komunitas belajar.
Delapan tips Mempersiapkan Komunitas belajar.

Sesi 3 - Tahap Pengembangan Kelompok & Manajemen Konflik

Hari kedua yang padat, tidak menyurutkan semangat peserta upgrading penggerak komunitas belajar. Materi sesi 3 kali ini, peserta dibagi menjadi 2 kelas, yaitu kelas A dan kelas B. Kelas A menempati ruangan 1-2 dan kelas B menempati ruang 3-4. Pada pembagian kelas ini, Bu Rien'z tergabung dalam kelas B, yang dipandu oleh Ibu Faidah, atau Ibu Fai sebagai narasumber dan Mas Dimas Adi Nugraha sebagai co Fasilitator yang memimpin jalannya ice breaking sore ini. Dengan bernyanyi di sini senang, disana senang, lagi-lagi akhir dari aktivitas ini adalah membagi kelas ke dalam dua kelompok.

Sore ini, kedua kelompok bermain peran, dengan kelompok satu memerankan suku wowo, dengan karakter lembut, dan tidak mau disentuh. Sementara tim yang lain memerankan suku Wiwi yang keras, dan suka menyentuh lawannya. Ada satu aktivitas dari kedua suku, yaitu saling melakukan jual-beli. Dengan perbedaan karakter kedua suku, berhasilkah proses jual-beli tersebut?

Dalam suatu komunitas, pengembangan kelompok melalui lima tahapan, yaitu Forming, Storming, Norming, Performing dan Adjourning. Tahap Forming terjadi pada saat awal-pembentukan kelompok. Pada fase ini, individu sedang mencoba untuk mengenal satu sama lain. Ada kecenderungan untuk menghindari konflik dan mencari persetujuan. 

Tahap kedua yaitu Storming, dimana pada tahap ini individu mulai merasa nyaman dan berani mengekspresikan opini mereka. Dalam hal ini, tentu saja masing-masing individu bisa memiliki opini yang berbeda. Disinilah, konflik dalam komunitas dimulai. Fase ini merupakan fase tersulit yang dilalui dalam sebuah pengembangan kelompok.

Fase ketiga adalah Norming. Fase ini terjadi ketika anggota komunitas sudah mulai memikirkan cara penyelesaian konflik. Mereka mulai mengembangkan hubungan yang lebih baik. Untuk dapat masuk ke fase norming, seorang penggerak komunitas belajar sangat perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk manajemen konflik. Dalam manajemen konflik, bisa menggunakan pisau analisis Conflict tree seperti pada gambar di bawah ini.

Seorang penggerak Komunitas belajar harus mampu menganalisis latar belakang konflik yang terjadi di komunitasnya

Managing conclict adalah kompetensi yang dapat membuat seseorang menghadapi konflik dan pertentangan dengan orang lain secara efektif Hal ini dilakukan dengan menggunakan gaya dan metode interpersonal yang tepat untuk mengurangi ketegangan atau konflik antara dua orang atau lebih. Sehingga pada khirnya akan ditemukan penyelesaian terbaik.

Tahap selanjutnya adalah Performing, dimana kelompok benar-benar terbentuk dan mulai bekerja secara efektif. Pada fase ini, anggota kelompok telah memiliki hubungan yang baik satu sama lain, memahami tujuan kelompok, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut. Kelompok pada fase performing cenderung menghasilkan hasil yang signifikan dan berkualitas.

Dan tahapan terakhir adalah Adjourning. Fase adjourning terjadi ketika kelompok telah menyelesaikan tugas yang diberikan dan siap untuk membubarkan diri. Pada fase ini, anggota kelompok mungkin merasa sedih atau kehilangan karena harus berpisah dari rekan-rekan yang telah lama dikenal. Fase adjourning juga dapat berarti bahwa kelompok akan bubar secara permanen, atau bisa juga berarti bahwa kelompok akan terus berlanjut dengan tugas-tugas atau tujuan yang baru.

Aktivitas hari kedua akhirnya selesai. Kami pun segera kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, mempersiapkan diri untuk mengikuti aktivitas selanjutnya esok pagi.



Senin, 05 Juni 2023

Pengumuman Seleksi Tahap 2 CGP A-9

 Ini dia Peserta CGP A-9 yang Lolos Seleksi Tahap 2

Akhir Mei yang cerah, secerah senyum para Calon Guru Penggerak Angkatan 9 yang saat ini sedang menerima Surat Pengumuman Kelulusan seleksi tahap 2 CGP A-9. Binar bahagia dan perasaan lega terpancar dari wajah-wajah rekan sejawat yang namanya tercantum dalam lampiran Surat Dirjen GTK nomor 1608/B3/GT.00.08/2023. Beberapa informasi terkait pengumuman seleksi tahap 2 CGP A-9 sebagai berikut:

  1. Terdapat sejumlah 33.729 orang telah mengikuti seleksi tahap 2 pada tanggal 24 Maret s.d. 13 Mei 2023, dan sejumlah 19.939 orang dinyatakan lulus seleksi tahap
  2. Daftar CGP yang dinyatakan lulus disajikan dalam lampiran. 2. Dari 19.939 orang yang dinyatakan lulus seleksi tahap 2, untuk Pelaksanaan pendidikannya akan didistribusikan pada Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 9 atau pada angkatan berikutnya dengan mempertimbangkan ketersediaan Pengajar Praktik dan kuota sasaran masing-masing kabupaten/kota dimaksud.
  3. Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9 rencananya akan dilaksanakan mulai bulan Agustus 2023, dan angkatan berikutnya akan diinformasikan kemudian.
  4. Keikutsertaan CGP pada PGP angkatan 9, atau angkatan berikutnya akan disampaikan oleh penyelenggara PGP (BBGP/BGP) wilayahnya, melalui surat undangan pemanggilan mengikuti PGP.
  5. Informasi lebih lanjut tentang PGP akan disampaikan kemudian melalui aplikasi SIM PKB masing-masing calon guru penggerak atau pada laman, https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak/
Sangat bersyukur, lagi-lagi dua guru dari SMKN 1 Pleret lolos seleksi tahap 2 CGP A-9 ini. Beliau adalah Ibu Retno Christyo Ekowati, dan Bapak Hardiyanto. Berdua telah melewati tantangan seleksi simulasi mengajar dan wawancara dengan sangat baik, dan beliau memang layak untuk mengikuti pendidikan guru penggerak tahun ini.
Dengan demikian, jumlah Calon Guru Penggerak dari SMK Negeri 1 Pleret berjumlah 6 orang. Empat diantaranya adalah CGP angkatan 8, dan dua orang dari angkatan 9. Harapannya, para CGP dari SMKN 1 Pleret nantinya akan membawa kemajuan dan perubahan bagi pendidikan di Indonesia, dan di SMK Pleret khususnya.
Semangat Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan...

Berikut dokumen Surat Pengumuman Kelulusan Seleksi Tahap 2 CGP Angkatan 9 Dari Daerah Istimewa Yogyakarta

Rabu, 15 Maret 2023

Model-Model Pembelajaran yang Relevan untuk Kurikulum Merdeka

 Seperti apa Pembelajaran yang Cocok untuk siswa??

Dalam rangka melaksanakan kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), SMK Negeri 1 Pleret menyelenggarakan Pelatihan untuk guru secara bertahap. Tahap 1 dilaksanakan pada hari Rabu, 15 Maret 2023 dengan narasumber Dr. Das Salirawati, M.Si. Hari ini guru-guru di SMK Negeri 1 Pleret mendapatkan pengetahuan baru mengenai penerapan Model-Model Pembelajaran yang menarik dan menyenangkan untuk mendukung penerapan Kurikulum Merdeka. Pada saat ini, memang di SMK Negeri 1 Pleret belum menerapkan Kurikulum Merdeka, namun demikian semua guru perlu untuk ikut mempelajari bagaimana Kurikulum Merdeka ini bisa diterapkan untuk persiapan tahun pelajaran baru 2023/2024 mendatang. Selain itu, Model-Model pembelajaran ini juga bisa digunakan sebagai alternatif solusi dalam melakukan Penelitian Tindakan Kelas.

Dr. Das Salirawati, M.Si, dosen Program Studi Kimia di Universitas Negeri Yogyakarta, selain sebagai pengajar, juga merupakan artis/publik figur yang multi talenta, mulai dari penari, tik-tokers, dan artis stand up comedy. Beliau menyampaikan materi mengenai pembelajaran Kurikulum Merdeka berdasarkan falsafah pendidikan Ki Hajar Dewantara. Bagaimana guru bisa menyajikan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, dengan karakter siswa yang beragam. Bagaimana guru bisa menyampaikan materi pembelajaran melalui media yang sesuai dengan gaya belajar siswa.


Perlu diketahui bersama, bahwa terdapat tiga macam gaya belajar, yaitu gaya auditori, gaya visual, dan gaya kinestetik. Dari ketiga gaya belajar itu, bisa juga terjadi kombinasi gaya belajar yang dimiliki oleh siswa. Dengan demikian, guru harus menyediakan model pembelajaran yang bisa mencakup semua gaya belajar siswa di dalam satu kelas tersebut. Model pembelajaran yang seperti apakah yang bisa diterapkan?

Pembelajaran yang kreatif dan inovatif berbasis lingkungan. 

Dengan memanfaatkan benda-benda dari lingkungan sekitar, guru dapat menggunakannya untuk praktik di rumah maupun di sekolah dengan panduan rekaman demonstrasi dari guru maupun LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik).

Pembelajaran Berbasis ISU di Masyarakat

Sering disebut sebagai SSi (Socio Scientific Issues) yaitu suatu pendekatan pembelajaran dengan mengetengahkan suatu problem di masyarakat yang diangkat sebagai isu yang  kontradiktif kemudian dibahas secara ilmiah sesuai dengan materi pelajaran tertentu.

Pembelajaran Berbasis Media Animasi

Media animasi merupakan media berbasis audio visual yang menarik, dan dapat menyajikan informasi dengan cepat. Menurut Edgar Dale, bahwa seseorang dapat merespon sesuatu berasal dari indera penglihatan sebesar 75%, dari indera pendengaran 13% dan 12% berasal dari indera lainnya. Hal ini menguatkan bahwa jika media yang digunakan merupakan media audio visual, maka harapannya respon siswa akan menjadi lebih besar. 

Pembelajaran Berbasis Integrasi Agama dan Interkoneksi Agama

Meskipun tidak semua mata pelajaran diwajibkan menanamkan nilai-nilai karakter religius secara langsung, namun guru tetap memiliki tanggung jawab dalam menanamkan karakter penting pada siswa. Dengan demikian, pembelajaran berbasis integrasi interkoneksi agama ini menjadi solusi dengan memberikan tugas pada siswa yang mengajak mereka untuk berpikir secara ilmiah, logis, rasional, tetapi tanpa disadari telah membawa siswa pada suatu perenungan tentang sesuatu yang berhubungan dengan religius 

Pembelajaran Berbasis Pendekatan Kontekstual

Pembelajaran kontekstual akan menjadikan pembelajaran yang bermakna, seperti yang disampaikan oleh Ausubel, bahwa belajar akan bermakna jika siswa dapat mengkaitkan konsep yang dipelajari dengan konsep yang sudah ada dalam struktur kognitifnya. Menurut Bruner, belajar akan berhasil lebih baik jika selalu dihubungkan dengan orang yang sedang belajar. Siswa pasti akan belajar lebih serius jika hal yang dipelajarai ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, atau hal-hal yang familiar di kepala mereka.

Pembelajaran berbalas Tanya

Proses pembelajaran biasanya sangat sedikit ada siswa yang bertanya. Kondisi ini dapat diatasi dengan  menerapkan berbalas tanya antar siswa. Denagn demikian siswa merasa diperlakukan adil, tidak hanya menjawab pertanyaan terus, namun juga bergantian mengajukan pertanyaan.

Joyfull Learning dengan Bernyanyi

Hasil penelitian Herry Chunagi (1996) & Siegel (1999) menyatakan bahwa semakin banyak rangsangan irama diperdengarkan, maka semakin kompleks jalinan antar neuron yang berakibat pada bertautannya kemampuan matematika, logika, bahasa, musik dan emosi anak. 

Beberapa model pembelajaran di atas, dapat diterapkan di kelas sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Dengan demikian, harapannya guru bisa menyajikan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan bagi para siswanya.

Pada kegiatan PKB selanjutnya, akan disampaikan materi mengenai Instrumen Penelitian oleh Drs. Amik Setiaji, M.Pd selaku pengawas Pembina SMK di Kabupaten Bantul. Instrumen tersebut diharapkan dapat mendukung Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan oleh guru.

Kamis, 02 Maret 2023

Resume Topik Merdeka Belajar pada Platform Merdeka Mengajar (Modul 2)

Modul 2 - Mendidik dan Mengajar

Salam dan Bahagia..

Topik Merdeka Belajar pada Platform Merdeka Mengajar (PMM), berisi lima modul yang harus di selesaikan. Pada postingan sebelumnya, Bu Rien'z telah menyampaikan resume Modul 1 - Mengenali dan Memahami Diri sebagai Pendidik. Kali ini kita akan menyambung ke Modul 2, tentang Mendidik dan Mengajar.

Modul 2. Mendidik dan Mengajar

Sekolah atau satuan pendidikan seringkali dipersepsi sebagai tempat mengasah kecerdasan kognitif semata. Sementara kehidupan kita percaya tidak hanya memerlukan kecerdasan kognitif, ada kecerdasan dan keterampilan hidup lain yang diperlukan untuk menjalani hidup. Kita percaya bahwa sekolah dan pendidikan merupakan bekal untuk murid kita mengisi masa depan. Pertanyaannya, Apakah hal-hal yang Ibu dan Bapak Guru lakukan setiap hari di ruang kelas bisa membantu murid mengisi masa depannya? Pada modul ini kita akan bersama berefleksi mengenai praktik mengajar kita apakah sudah cukup menyiapkan murid di masa depan? 

Modul ini dikembangkan oleh: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta ditinjau oleh Simon Rafael dan Monika Irayati. Simon Rafael dan Monika Irayati berpengalaman di bidang pendidikan dan kepelatihan guru, salah satunya adalah Program Guru Penggerak

Daftar Materi: 
A. Mendidik Menyeluruh

Kita percaya bahwa sekolah dan pendidikan merupakan bekal untuk murid kita mengisi masa depan. Pertanyaannya, Apakah hal-hal yang Ibu/ Bapak lakukan setiap hari di ruang kelas bisa membantu murid mengisi masa depannya?
Pada modul ini kita akan bersama berefleksi mengenai praktik mengajar kita apakah sudah cukup menyiapkan murid di masa depan?
Video materi bisa diakses melalui link berikut ini: https://youtu.be/R3jMf0-SzCI 

Referensi:
Ki Hadjar Dewantara - Ki Hadjar Dewantara (Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka). Cetakan ke 5: 2013. Penerbit: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa bekerja sama dengan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa 2013

B. Pendidikan Satu Abad

Kita percaya bahwa sekolah dan pendidikan merupakan bekal untuk murid kita mengisi masa depan. Pertanyaannya, Apakah hal-hal yang Ibu/ Bapak lakukan setiap hari di ruang kelas bisa membantu murid mengisi masa depannya?
Pada modul ini kita akan bersama berefleksi mengenai praktik mengajar kita apakah sudah cukup menyiapkan murid di masa depan?
Video Materi Modul ini dapat diakses melalui link berikut: https://youtu.be/9Jh7YtCBiR8

Referensi:
Ki Hadjar Dewantara - Ki Hadjar Dewantara (Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka). Cetakan ke 5: 2013. Penerbit: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa bekerja sama dengan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa 2013

C. Menjadi Manusia (secara) Utuh

Manusia memilki dua kebutuhan dasar yaitu kebutuhan lahir dan batin. pendidikan seyogyanya dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Mari kita simak video berikut, untuk memahami lebih detail mengenai materi ini. https://youtu.be/FNqIlGa4PA4 Video ini mengajak kita bagaimana peran guru dalam memenuhi kebutuhan lahir dan batin murid mencapai selamat dan bahagia. Apakah cara mendidik dan mengajar kita sudah memenuhi kebutuhan murid?

Referensi:
Ki Hadjar Dewantara - Ki Hadjar Dewantara (Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka). Cetakan ke 5: 2013. Penerbit: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa bekerja sama dengan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa 2013

Post Test Modul 2 - Mendidik dan Mengajar 

Terdapat 12 Soal yang harus dikerjakan oleh bapak/ibu guru di Modul 2 ini. Kriteria telah menuntaskan modul adalah ketika semua pertanyaan dapat terjawab dengan baik. Pada kesempatan ini, Bu Rienz akan menampilkan soal-soal yang ada pada Modul 2. 

Soal 1
Ki Hadjar Dewantara mendefinisikan “Pendidikan” sebagai “tuntunan”. Artinya…
Jawaban: D Tuntunan dalam hidup tumbuhnya murid sesuai dengan kodratnya

Soal 2
Apa definisi dari “mendidik” yang paling tepat menurut Ki Hadjar Dewantara?
Jawaban: A Menuntun segala kodrat yang ada pada murid, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik itu sebagai manusia maupun anggota masyarakat

Soal 3
Berikut ini adalah bentuk praktik pengajaran, kecuali:
Jawaban: B Guru mengamati minat murid terhadap puisi

Soal 4
Menurut Ki Hadjar Dewantara, ... merupakan cara menyampaikan ilmu atau manfaat bagi hidup anak-anak secara lahir maupun batin.
Jawaban: D Pengajaran

Soal 5
Menurut Ki Hadjar Dewantara, salah satu hasil dari "tuntunan" orang dewasa terhadap kekuatan-kekuatan yang dimiliki murid adalah ...
Jawaban: B Akal budi yang berkembang

Soal 6
Berikut pernyataan yang sesuai terkait pemahaman terhadap kata "pendidikan" dan "pengajaran" menurut Ki Hadjar Dewantara ...
Jawaban: C Pengajaran adalah salah satu bagian dari pendidikan

Soal 7
Hanya fokus pada orientasi kognitif dalam pembelajaran dapat menyebabkan…
Jawaban: B Perkembangan kecakapan emosi dan sosial murid terabaikan

Soal 8
Menurut Ki Hadjar Dewantara, sistem pendidikan barat mengedepankan rasio dan ilmu pengetahuan tanpa adanya....
Jawaban: D pendidikan emosional dan olah rasa

Soal 9
Dasar utama yang dicita-citakan Ki Hadjar Dewantara untuk mencapai keluhuran manusia, nusa dan bangsa adalah kemerdekaan setiap murid untuk mampu mengatur dirinya sendiri agar seperti tersebut di bawah ini, kecuali...
Jawaban: D mengatur orang lain

Soal 10
Sifat pendidikan yang paling sesuai dengan bangsa kita menurut Ki Hadjar Dewantara adalah ...
Jawaban : C Humanis, Kerakyatan dan Kebangsaan

Soal 11
Penanda manusia merdeka menurut Ki Hadjar Dewantara adalah berikut ini kecuali...
Jawaban: C beriman

Soal 12
Pengembangan budi pekerti (olah rasa, karakter), pikiran (olah pikir) dan jasmani (olah raga) murid melalui pendidikan tidak dapat dipisahkan, karena…
Jawaban: B Membuat diri murid menjadi seimbang

Demikian resume materi Modul 2 tentang Mendidik dan Mengajar. Kita lanjutkan resume modul 3 - Mendampingi Murid dengan Utuh dan Menyeluruh pada postingan berikutnya.

Sampai Jumpa..

Rabu, 01 Maret 2023

Resume Topik Merdeka Belajar pada Platform Merdeka Mengajar (Modul 1)

Modul 1 - Mengenali dan Memahami Diri sebagai Pendidik 

Salam dan Bahagia...

Jargon Merdeka Belajar kita kenal dimana-mana. Tapi sebenernya apa sih maknanya? Samakah itu dengan membebaskan murid sebebas-bebasnya? Lalu apa batasannya? 
Platform Merdeka Mengajar tentunya sudah menjadi hal yang tidak asing bagi para guru. Dari Platform yang sering kita sebut dengan PMM itu, salah satu fitur yang tersedia adalah fitur Pelatihan Mandiri. Disini, para guru bisa mengakses berbagai bentuk pelatihan secara mandiri yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja. Kemudahan akses PMM yang tidak hanya diakses melalui perangkat laptop saja, PMM juga bisa diakses oleh guru melalui aplikasi di perangkat android masing-masing. 

Kali ini, Bu Rienz akan membagikan resume salah satu topik yang terdapat di pelatihan mandiri, yaitu Topik Merdeka Belajar. Topik Merdeka Belajar Topik ini berisi lima modul yang harus dipelajari. kelima modul itu adalah: 

  1. Mengenali dan Memahami Diri sebagai Pendidik 
  2. Mendidik dan Mengajar 
  3. Mendampingi Murid dengan Utuh dan Menyeluruh 
  4. Mendidik dan Melatih Kecerdasan Budi Pekerti 
  5. Pendidikan yang Mengantarkan Keselamatan dan Kebahagiaan. 

Selain mempelajari materi, guru juga perlu mengerjakan soal latihan pemahaman, melakukan refleksi diri pada tiap modul, serta menyelesaikan post test dan tentu saja adalah mempraktikkan aksi nyata. Jika semua aktivitas tersebut dilakukan dengan baik pleh guru, maka guru tersebut berhak memperoleh sertifikat yang setara dengan 39 jam. Nah, mari kita kupas satu per satu materi di atas. 

Modul 1. Mengenali dan Memahami Diri sebagai Pendidik 

Pada modul ini, kita akan belajar dua hal: 

  • Merefleksikan diri dan peran sebagai pendidik
  • Memproyeksikan diri menjadi guru seperti apa di masa depan. 

Modul ini dikembangkan oleh: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta ditinjau oleh Simon Rafael dan Monika Irayati. Simon Rafael dan Monika Irayati berpengalaman di bidang pendidikan dan kepelatihan guru, salah satunya adalah Program Guru Penggerak 

Daftar Materi: 
A. Mengenali Diri dan Perannya Sebagai Pendidik 

Sebagai Pendidik tentu sudah seharusnya mampu mengenali karakteristik dan kebutuhan murid. Akan tetapi hal yang paling mendasar juga harus dimulai dari diri sendiri yaitu mengenali kekuatan dan kelemahan diri. untuk memahami materi ini lebih detail, silakan menyaksikan video melalui link berikut. https://youtu.be/nvLIc9O5C9c 
Video di atas, mengajak Ibu dan Bapak Guru merefelksikan kekuatan dan kelemahan yang kita punyai, lalu bagaimana kita dapat mengelola apa yang kita miliki tersebut untuk berperan mendidik murid-murid kita. 

Referensi: Ki Hadjar Dewantara - Ki Hadjar Dewantara (Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka). Cetakan ke 5: 2013. Penerbit: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa bekerja sama dengan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa 2013 

B. Apa Peran Saya Sebagai Guru 

Tidak dipungkiri bahwa peran guru amatlah penting bagi perkembangan murid. Materi lebih detail dijelaskan oleh nara sumber melalui link berikut ini. https://youtu.be/sORGF8_h_g4 Video ini mengajak kita berefleksi bersama terkait peran sebagai guru selama ini. 

Referensi: Ki Hadjar Dewantara - Ki Hadjar Dewantara (Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka). Cetakan ke 5: 2013. Penerbit: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa bekerja sama dengan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa 2013 

C. Ingin Menjadi Guru Seperti Apa Saya 

Murid seringkali terinspirasi dari Ibu dan Bapak gurunya. Tentu sebagai guru, kita ingin memberikan pengaruh-pengaruh yang baik di masa depan murid. Materi pada sub modul ini dapat diakses melalui link berikut. https://youtu.be/t0FOFVWq4kM Video ini mengajak kita memproyeksikan menjadi guru seperti apa di masa depan? 

Referensi: Ki Hadjar Dewantara - Ki Hadjar Dewantara (Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka). Cetakan ke 5: 2013. Penerbit:Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa bekerja sama dengan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa 2013 

Post Test Modul 1 - Mengenali dan Memahami Diri sebagai Pendiidik 

Terdapat 10 Soal yang harus dikerjakan oleh bapak/ibu guru di Modul 1 ini. Kriteria telah menuntaskan modul adalah ketika semua pertanyaan dapat terjawab dengan baik. Pada kesempatan ini, Bu Rienz akan menampilkan soal-soal yang ada pada Modul 1. 

Soal 1 Berikut adalah salah satu contoh penerapan belajar merdeka yang diterapkan dalam pendidikan di sekolah 
Jawaban: C Mempercayakan murid-murid untuk bekerja dengan mandiri dan membimbingnya jika membutuhkan bantuan 

Soal 2 Apa definisi manusia merdeka menurut Ki Hajar Dewantara? 
Jawaban: B Manusia yang hidupnya bersandar pada kekuatan sendiri baik lahir maupun batin, tidak tergantung dengan orang lain 

Soal 3 Pendidik sejatinya menuntun tumbuh kodrat pada anak agar dapat memperbaiki.... 
Jawaban: A perilakunya 

Soal 4 Berikut ini langkah-langkah awal yang harus dilakukan oleh seorang pendidik untuk menuntun murid-murid menjadi manusia yang merdeka, kecuali ... 
Jawaban: B Menambah kapasitas diri sebagai pendidik 

Soal 5 Sebagai guru, apa saja pengalaman belajar yang perlu dimaknai oleh murid? 
Jawaban: A Pengetahuan, keterampilan dan wawasan keilmuan, serta pendidikan karakter 

Soal 6 Untuk memberikan ilustrasi tentang pentingnya mendidik anak, Ki Hajar Dewantara menyamakannya seperti... 
Jawaban: B mendidik masyarakat 

Soal 7 Murid-murid kita saat ini adalah generasi digital native , fasih berselancar di internet, mendapatkan pengetahuan bahkan mempelajari keterampilan sesuai kebutuhan belajar mereka. Apa yang dimaksud generasi digital native? 
Jawaban: C Generasi yang lahir dan tumbuh di dalam era digital 

Soal 8 Dengan menjadi guru, apa yang kelak akan dibentuk dengan menjadikan murid-murid sebagai bagian atau bahkan pemimpin masyarakat di masa depan? 
Jawaban: B Kebudayaan 

Soal 9 Untuk menjadi guru yang dapat menghadapi perubahan zaman yang dinamis, keterampilan apa yang perlu dimiliki seorang guru? 
Jawaban: C Adaptif 

Soal 10 Jika seorang guru ingin muridnya menjadi manusia yang memiliki empati, maka ia perlu melakukan hal-hal berikut ini, kecuali.... 
Jawaban: A memastikan muridnya selalu sukses dalam proses belajarnya 

Soal-soal di atas bisa saja ditampilkan secara acak. Bapak/ibu pembaca sekalian, bisa mencocokkan jawaban yang Bu Rien'z berikan ini dengan soal yang bapak/ibu kerjakan.

Nah, Modul 1 sudah diselesaikan. Mari kita lanjutkan menuju ke Modul 2 - Mendidik dan Mengajar. Sampai jumpa pada postingan berikutnya..

Senin, 27 Februari 2023

Pelatihan Digital Talent Desain Grafis #Part 6

 Penutupan Thematic Academy - Digitalent Kominfo


Alhamdulillah.. tidak terasa hari ini adalah hari terakhir kegiatan thematic academy digital talent. Serangkaian kegiatan telah dilaksanakan dengan lancar. Hari ini, live sesion keenam dilaksanakan pagi hari, karena siang nanti akan diadakan sesi penutupan di masing-masing kelas.
Berhubung semua materi sudah disampaikan, pagi ini kami hanya diskusi dan review tugas-tugas yang telah kami buat selama pelatihan. Dimulai dari tugas pertama hingga tugas kelima, kami bergiliran mempresentasikan hasil penugasan yang kami kerjakan. Tak lupa pula, Pak Yana mengingatkan peserta untuk mengakses LMS dan peserta yang belum sempat mengerjakan pretest masih diberi kesempatan untuk mengerjakan hingga pukul 08.30.
Selayaknya pelatihan yang lain, peserta juga diwajibkan untuk mengerjakan post tes yang dijadwalkan pada pukul 09.30-10.30 sebagai syarat kelulusan pelatihan dan pemberian sertifikat. Adapun persentase kelulusan diperhitungkan dari beberapa aspek, yaitu:
  1. kehadiran
  2. pre test dan posttes
  3. penugasan
Jika semua aspek penilaian bisa terpenuhi sesuai kriteria minimal, maka peserta berhak mendapatkan sertifikat dari BPPTIK.
Acara penutupan dilaksanakan pada pukul 10.30, melalui zoom meeting di kelas masing-masing. Pada kesempatan ini, disampaikan pula testimoni dari perwakilan peserta. Peserta laki-laki diwakili oleh Bapak Qaharudin, sementara Bu Rien'z mewakili testimoni untuk peserta perempuan. Tak lupa kami pun menyampaikan permohonan maaf jika selama kegiatan terdapat kekhilafan dan kesalahan kami baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Semoga bisa dipertemukan kembali pada kegiatan selanjutnya.

Jumat, 24 Februari 2023

Pelatihan Digital Talent Desain Grafis #Part 5

 Materi Hari Kelima - Membuat Infografis


Masih semangat mengikuti Thematic Academy Digitalent di hari kelima ini. Materi kali ini adalah membuat infografis. Waah, seperti apa ya?? Dimulai tepat pukul 13.00 WIB, Pak Adi menyapa semua peserta dan langsung mempersilakan kepada pak Yana untuk memandu pelatihan pada siang ini.
Infografis adalah media informasi yang disajikan dalam bentuk teks, serta dipadukan dengan beberapa elemen visual seperti gambar, ilustrasi, grafik, dan tipografi. Berasal dari kata infographic yang sangat identik dengan penambahan data dalam bentuk angka yang dikemas dalam berbagai paduan warna desain yang menarik. 

Manfaat Infografis:

  • Meningkatkan brand awareness
Infografis juga dapat dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan brand awareness dari produk bisnis anda. Dengan cara, menyisipkan logo brand perusahaan anda supaya pembaca dalam mengenal dan mengetahui logo anda dengan lebih mudah.
  • Meningkatkan optimalisasi SEO
Setelah banyak pembaca yang mengenal brand milik anda, selanjutnya melakukan optimasi SEO dengan tepat. Anda dapat mulai dengan memposting dan melakukan promosi mengenai infografis tersebut. Tambahan backlink juga sangat bermanfaat untuk mendukung performa dari SEO
  • Mudah untuk dibagikan
Dapat membagikan infografis secara lebih mudah dengan menempelkan pada blog atau artikel. Secara otomatis, pengunjung juga dapat membagikannya melalui jejaring social yang sering digunakan, seperti facebook, twitter, dan Instagram
  • Menumbuhkan minat membaca
Tampilan yang menarik dapat meningkatkan minat pembaca. Cara untuk menumbuhkan hal tersebut dengan memperbaiki tampilan visual akan terlihat lebih user friendly dan tidak membosankan saat dibaca.
  • Sebagai media promosi yang efektif
Audiens cenderung lebih menyukai konten yang dibuat lebih sederhana, namun konteks yang dicapai sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan adanya infografis, maka membuka peluang untuk melakukan promosi secara lebih efektif dan efisien

Infographic terbagi menjadi tiga jenis, yaitu jenis statis, animasi, dan interaktif. Terdapat, setidaknya 7 langkah untuk membuat infographic yang mudah bagi pemula.

Penugasan hari ini adalah masing-masing peserta diminta untuk membuat infografis pendidikan berdasarkan sumber yang sesuai dengan ketugasan guru masing-masing. Tugas kelima ini merupakan tugas terakhir dari pelatihan ini. Semua peserta antusias untuk mengerjakan tugas dan saling diskusi mengenai seluk-beluk infografis yang akan dibuat.

Tak lupa, pertemuan sore ini diakhiri dengan sesi foto bersama untuk dokumentasi. Kabar baiknya adalah selama sabtu-minggu jadwal pelatihan off.. Yeaayyy...!!! Happy weekend teman-teman.. Sampai jumpa hari senin pagi.

Sinau Wayang (One Day One Wayang) #48

Batara Yama Hallo Sobat Budaya. Pecinta Wayang Jawa Sinau Wayang Part #48, Selasa Kliwon tanggal 17 Februari 2026, Rienz Kinarya melanjutkan...