SMK Negeri 1 Pleret

SMK Negeri 1 Pleret, berlokasi di Jalan Imogiri Timur, km.9 Dusun Jati, Desa Wonokromo, Kapanewon Pleret, Daerah Istimewa Yogyakarta
Terdapat 4 Kompetensi Keahlian, Yaitu:
1. Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL)
2. Teknik Jaringan Tenaga Listrik (TJTL)
3. Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ)
4. Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM)

Kelas Seni Budaya Bersama Bu Rienz

Jika anda menempuh pendidikan di SMKN 1 Pleret, nanti akan berjumpa dengan Bu Rienz di kelas Seni Budaya.
Kelas Seni Budaya hanya ditempuh di kelas X saja, dengan jumlah jam tatap muka 3 JPL dalam sepekan.

Kegiatan SAGUGABLOG Lanjut 70

Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyelenggarakan kegiatan yang sangat menarik, yaitu Sagusablog, atau SAtu GUru SAtu BLOG.
Kegiatan ini diawali dengan kelas sagusablog dasar, kemudian bagi peserta yang lulus, diperbolehkan untuk mengikuti kelas sagusablog lanjut.

Selasa, 21 Januari 2025

Workshop SPEGASA

Mengajar dengan Pemahaman: Catatan Saya dari Workshop SPEGASA di SMP Negeri 3 Samigaluh


Selasa, 21 Januari 2025, saya mendapatkan kehormatan untuk berbagi dalam sebuah kegiatan yang hangat dan bermakna bersama rekan-rekan guru SMP Negeri 3 Samigaluh. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Belajar SPEGASA dalam bentuk Workshop Peningkatan Kompetensi Guru, dengan tema “Memahami Konten dan Cara Mengajarkannya”.

Workshop berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, dan dibuka langsung oleh Bapak Setyo Budiyono, S.Pd., Kepala SMP Negeri 3 Samigaluh. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya guru memahami tidak hanya apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana cara mengajarkannya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik.

Refleksi Awal: Seberapa Paham Kita Akan Konten yang Kita Ajarkan?

Saya memulai sesi dengan survey ringan kepada peserta, menanyakan bagaimana mereka memahami konten pelajaran yang mereka ajarkan sehari-hari. Banyak guru menyampaikan bahwa meskipun sudah bertahun-tahun mengajar, mereka belum pernah benar-benar merenungkan bagaimana konten itu bisa disampaikan dengan lebih dalam dan kontekstual.
Dari situlah kami memulai perjalanan bersama hari itu.


Menelusuri Makna “Konten” dan Pentingnya Memahaminya

Saya menyampaikan pengantar tentang konten pembelajaran, tidak hanya sebagai kumpulan materi, tapi sebagai inti pengetahuan yang harus ditransformasikan menjadi pengalaman belajar. Kami mendiskusikan syarat-syarat guru memahami konten secara utuh—mulai dari penguasaan konsep, struktur keilmuan, keterkaitannya dengan kehidupan nyata, hingga cara membangun jembatan antara konten dan cara mengajarkannya.

Peserta juga diajak untuk memahami mengapa guru perlu lebih dari sekadar "menyampaikan materi". Karena pada hakikatnya, guru adalah penyampai makna, bukan hanya informasi.

Strategi Mengajar yang Efektif dan Deep Learning

Bagian selanjutnya kami fokuskan pada strategi pembelajaran efektif dan bagaimana guru bisa mengajar dengan pendekatan deep learning. Saya menekankan bahwa deep learning bukan hanya tentang kedalaman materi, tapi juga tentang bagaimana siswa berpikir, terlibat secara emosional, dan membangun pemahaman jangka panjang.

Kami berdiskusi tentang pendekatan yang mengaktifkan siswa, seperti pertanyaan pemantik, pembelajaran berbasis masalah, dan refleksi belajar. Saya sangat senang melihat antusiasme peserta yang mulai merancang ide-ide sederhana namun berdampak untuk diterapkan di kelas masing-masing.

Refleksi yang Menggugah

Di akhir kegiatan, kami melakukan sesi refleksi terbuka. Banyak guru menyampaikan bahwa sesi ini membuka sudut pandang baru, bahwa konten bukan hanya milik buku teks, melainkan harus diolah dengan cara yang kontekstual dan relevan dengan siswa.

“Selama ini saya mengajar sesuai buku. Tapi hari ini saya sadar, memahami konten secara mendalam itu adalah kunci agar pembelajaran kita bisa masuk ke hati dan pikiran siswa,” ungkap salah satu peserta dengan semangat.

Menutup Hari dengan Semangat Baru

Saya pulang dari SMP Negeri 3 Samigaluh dengan hati yang hangat. Energi dari para guru dan komunitas SPEGASA benar-benar menginspirasi. Semoga semangat untuk terus belajar, memahami, dan mengembangkan cara mengajar ini menjadi langkah awal menuju kelas-kelas yang lebih hidup, reflektif, dan memerdekakan siswa dalam berpikir.

Terima kasih, keluarga besar SMP Negeri 3 Samigaluh, atas undangan dan ruang kolaboratif yang luar biasa ini. Mari terus tumbuh bersama.



Kamis, 16 Januari 2025

Teater (Part 3)

 Struktur Alur dalam Lakon


A. Pengertian Alur Cerita menurut para Ahli

1. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menurut KBBI, alur cerita adalah plot yang artinya jalan atau alur cerita yang terdapat di dalam novel, sandiwara, dan sebagainya.

2. Literary Terms

Menurut Literary Terms, pengertian alur cerita adalah bagaimana cerita berkembang, terungkap, dan bergerak dalam waktu.

3. Andri Wicaksono (2014)

Menurut Andri Wicaksono, alur cerita merupakan konstruksi yang dibuat mengenai sebuah deretan peristiwa secara logik dan kronologik yang saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh para pelaku.

4. M. Antar Semi (1988)

M. Antar Semi mengungkapkan pengertian alur cerita adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi.

5. Aminudin (2002)

Aminudin berpendapat bahwa pengertian alur cerita atau plot adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.

6. Sudjiman (1986)

Sudjiman berpendapat bahwa pengertian alur cerita adalah rangkaian peristiwa di jalin dengan seksama yang menggerakkan jalan cerita melalui rumitan ke arah klimaks dan anti-klimaks. Dengan kata lain, pengertian alur cerita adalah jalinan peristiwa di dalam kartya sastra untuk mencapai efek tertentu. Alur diwujudkan oleh hubungan temporal atau waktu dan hubungan kausal atau sebab akibat.

7. Forster (1970)

Menurut Forster, pengertian alur cerita adalah rentetan peristiwa yang menekankan pada hubungan akibat.

8. Chatman (1980)

Chatman berpendapat bahwa pengertian alur cerita adalah tata urutan pemunculan peristiwa-peristiwa dalam cerita.

9. Stanton (1965)

Stanton berpendapat bahwa pengertian alur cerita atau plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun setiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa lain.

10. Kenny (1966)

Menurut Kenny, pengertian alur cerita atau plot adalah peristiwa-peristiwa yang ditampilkan di dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat.

11. Rusyana

Sementara itu, Rusyana berpendapat bahwa pengertian alur cerita bukan sekadar urutan cerita A sampai Z, melainkan hubungan sebab akibat peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain di dalam cerita.

12. Virgil Scoh (1966)

Virgil Scoh mendefinisikan pengertian alur cerita sebagai prinsip esensial di dalam cerita.

13. Morjorie Boulton (1975)

Menurut Morjorie Boulton, pengertian alur cerita adalah pengorganisasian di dalam novel atau penentu struktur novel.

14. Dick Hartoko (1948)

Dick Hartono mengungkapkan pendapatnya tentang pengertian alur cerita sebagai alur yang dibuat oleh penulis berupa deretan peristiwa secara kronologis, saling berkaitan, dan bersifat kausalitas sesuai dengan apa yang dialami pelaku cerita.

 B. Macam-Macam Alur Cerita yang Sering digunakan

Setelah memahami pengertian alur cerita, kini perlu mengenal juga apa saja jenis-jenis alur cerita. Secara umum, alur cerita dapat diklasifikasikan menjadi tujuh jenis, yaitu alur maju, alur mundur, alur campuran, alur sorot balik, alur klimaks, alur anti-klimaks, dan alur kronologis. Berikut detailnya!

1. Alur Maju
Alur maju di dalam pengertian alur cerita atau yang biasa disebut progresif adalah tindakan yang memuncak pada akhir cerita. Alur maju adalah serangkaian peristiwa yang dimulai secara teratur dari awal hingga akhir cerita.
Contoh alur maju, misalnya cerpen yang menceritakan masa kecil seorang anak yang kemudian tumbuh dewasa dan berakhir ketika ia tua. Diceritakan pula bagaimana konflik yang ia hadapi selama hidupnya.

2. Alur Mundur
Alur mundur atau regresi merupakan tindakan yang menceritakan masa lalu dari tokoh di dalam cerita. Pengertian alur cerita mundur ini justru konfliknya disampaikan di awal cerita dan kemudian mundur ke masa lalunya. Serangkaian peristiwa dalam refluks dimulai dari masa lalu ke masa kini dengan waktu yang tidak tepat.
Contoh alur mundur adalah cerita pensiunan polisi yang menceritakan kisahnya berjuang selama menjadi anggota polisi.

3. Alur Campuran
Pengertian alur cerita berdasarkan kronologis cerita yang terakhir yakni alur campuran. Alur campuran atau alur bolak-balik ini seperti sungai yang dimulai di titik paling tinggi, kemudian menceritakan masa lalu dan berlanjut sampai selesai.
Saat menceritakan masa lalunya, karakter tokoh yang diperkenalkan di dalam cerita akan memperkenalkan karakter lain selama cerita belum berakhir dan saat cerita kembali ke awal lagi. Contoh alur campuran adalah sebuah cerita yang dimulai di tengah-tengah cerita dan kemudian maju atau mundur.

4. Alur Sorot Balik (Flashback)
Alur sorot balik atau flashback merupakan alur yang terjadi karena pengarang mendahulukan akhir cerita dan setelah itu kembali ke awal cerita. Pengarang biasanya memulai ceritanya dari klimaks menuju kembali ke awal cerita dan ke akhir cerita lagi.
Tahapan yang terjadi pada alur sorot balik ini dimulai dari klimaks – anti-klimaks – akhir – peruwitan – awal.

5. Alur Klimaks
Alur klimaks adalah susunan peristiwa menanjak dari peristiwa biasa yang meningkat menjadi penting dan lebih menegangkan dibandingkan sebelumnya.

6. Alur Anti-klimaks
Alur cerita anti-klimaks adalah alur cerita yang susunan peristiwanya makin menurun dari peristiwa menegangkan kemudian menjadi kendor dan berakhir dengan peristiwa yang semakin biasa saja.

7. Alur Kronologis 
Alur cerita kronologis adalah alur yang susunan peristiwanya berjalan sesuai dengan urutan waktu terjadinya peristiwa. Di dalam alur ini, terdapat hitungan jam, menit, detik, hari, dan lain sebagainya.

C. Struktur Alur Cerita

Untuk membangun pengertian alur cerita yang utuh, diperlukan unsur-unsur di dalam alur cerita dan bagaimana alur cerita seharusnya terjadi di dalam sebuah peristiwa pada karya sastra. Berikut ini merupakan unsur-unsur alur cerita atau tahapan alur cerita dari awal sampai akhir.
Struktur Aristoteles dikembangkan oleh Gustav Fraytag dan Hudson dalam bentuk dramatic line (garis dramatik).


1. Eksposisi (Exposition)

Eksposisi merupakan awal dari sebuah cerita atau permulaan cerita, biasanya berupa pengenalan dan berisi penjelasan peristiwa dengan maksud menuntun penonton pada situasi agar diketahui semua yang ada di dalamnya. Bagian ini harus jelas dan menarik untuk terus diikuti.

Tahapan awal ini juga disebut sebagai Orientasi atau pengenalan tokoh, pada pengertian alur cerita dimulai dari orientasi atau pengenalan tokoh. Pada tahap orientasi ini, penulis memperkenalkan siapa saja tokoh yang ada di dalam cerita yang ditulis. Selain itu, juga ditunjukkan unsur dasar cerita, misalnya waktu kejadian cerita tersebut terjadi, di mana latar tempat cerita tersebut, dan bagaimana suasananya.

Tujuan disusunnya orientasi ini agar pembaca mengetahui siapa yang memerankan tokoh di dalam alur cerita tersebut serta di mana tempat cerita tersebut berlangsung, serta bagaimana suasana yang berusaha dibangun penulis di dalam tulisannya.

2. Penanjakan Cerita (Rising Action)

Setelah mengenal tokoh, lokasi, dan lain sebagainya lalu masuk ke tahap permulaan konflik. Tahap permulaan konflik atau tahap kedua ini baru akan dimunculkan bagaimana konflik terjadi dan apa penyebab terjadinya konflik. Umumnya, konflik timbul karena adanya pertentangan antartokoh atau bisa juga disebabkan karena tokoh utama mengalami masalah.

Bagian ini ditandai dengan mulai tumbuhnya laku, satu titik konlik mulai terjadi, dan kekuatan sebagai pendorong yang menjadi benih-benih konlik berikutnya. Bagian ini umumnya ditandai oleh satu kekuatan keinginan dan tujuan dari tokoh utama yang akan mencari jalan untuk mencapai tujuannya.

Permulaan konflik di dalam cerita inilah yang akan membuat pembaca penasaran sehingga ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana ceritanya. Pembaca biasanya juga akan semakin bertanya-tanya konflik apa yang sekiranya dialami tokoh sebagai lanjutan ceritanya. Tahap permulaan konflik ini mendorong pembaca melanjutkan cerita dengan konflik yang lebih rumit.

3. Komplikasi (Complication)

Komplikasi berisi konflik dan pengembangannya menuju titik klimaks. Hal ini ditandai dengan keruwetan-keruwetan yang dibangun oleh watak tokoh-tokohnya untuk mempertahankan tujuannya.

4. Klimaks (Climax)

Klimaks merupakan keruwetan yang ada pada ujung komplikasi dan melahirkan sebuah krisis. Krisis terus meninggi yang akhirnya menjadi suatu peristiwa yang tidak bisa dielakkan sehingga keadaan menjadi kacau yang berakibat salah satu atau beberapa pihak mengalami penderitaan. Klimaks harus tumbuh dari tokoh utama yang berujung pada keseluruhan laku. Pada titik ini, peristiwa biasanya cukup menegangkan.

Tahap pengertian alur cerita konflik ini menceritakan bagaimana titik puncak konflik di dalam cerita terjadi. Bagian ini biasanya paling ditunggu-tunggu oleh pembaca dan membuat pembaca akan bertahan lama membaca ketika konfliknya menarik atau menegangkan.

Biasanya, klimaks dari konflik ini dialami oleh pemeran utama yang menimbulkan ketegangan dan pemecahan masalah apa yang kemudian ia lakukan. Dampaknya, tentu saja membuat pembaca lebih penasaran dan menyimak cerita.

5. Penurunan Cerita (Falling Action)

Bagian ini ditandai dengan pilihan tokoh-tokohnya untuk menentukan nasibnya setelah terjadi peristiwa yang menegangkan.

Setelah diceritakan mengenai puncak konflik atau klimaks, bagian selanjutnya adalah tahapan konflik mereda atau menurun (Anti-Klimaks). Di dalam tahap ini, tokoh utama mulai mengetahui bagaimana cara mengatasi konflik yang sedang berlangsung. Ketegangan yang disaksikan oleh pembaca di sini sedikit mereda dan biasanya akan berubah menjadi kagum pada tokoh utama.

Pasalnya, biasanya di tahap ini tokoh utama diceritakan mampu menghadapi masalah, baik dengan cara yang terduga maupun tidak terduga. Suasana pada tahapan anti-klimaks ini seringkali tidak bisa ditebak oleh pembaca.

6. Penyelesaian (Conclusion)

Pada bagian ini, biasanya muncul tokoh lain yang memiliki posisi penting (tokoh sentral), yang bisa menggiring peristiwa yang kacau tadi ke arah perubahan situasi tokoh-tokoh yang berhadapan dengan masalah masing-masing. Peristiwa yang sejak mula dibangun oleh para tokohnya menjadi mereda dan dapat berujung pada penyadaran para pelaku dalam lakon tersebut.

Tahap pengertian alur cerita penyelesaian adalah tahap terakhir yang berisi berbagai masalah dan rintangan yang dialami tokoh utama sudah berhasil diselesaikan dengan baik. Jika tidak ada konflik lain, biasanya penulis membuat cerita tahap penyelesaian dan pembaca bisa langsung menyimpulkan kesan di tahap ini.

Di tahap penyelesaian, penulis juga seringkali menyisipkan pesan atau amanat yang dapat dipetik oleh pembaca.




Kamis, 09 Januari 2025

Teater (Part 2)

Dramaturgi



A. Dramaturgi

Pada pengertian harfiahnya ‘dramaturgi’ adalah ilmu drama. Pelajaran tentang kaidah-kaidah berteater. Teater yang kompleks diurai berdasarkan norma dan hukum konvensinya. Teater dipelajari sebagai bentuk seni yang kompleks karena unsur penopangnya berasal dari ragam bentuk seni lainnya, seperti seni tari, seni rupa, musik, dan bahkan multimedia. Pada pemahaman lain, dramaturgi diartikan sebagai teori yang mempelajari tingkah laku kehidupan manusia sehari-hari yang tak jauh berbeda dengan pertunjukan teater. Terkait dengan pemahaman itu, substansi dramatik lakon teater memang tidak berbeda dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dasar drama adalah konflik kemanusiaan yang selalu menguasai perhatian dan minat publik (Nur Iswantara, 2016: 4). Dramaturgi juga berhubungan dengan ilmu sosial komunikasi. Pada pengertian ini, kehidupan manusia sehari-hari layaknya permainan drama atau teater. Bagaimana dalam kehidupan sehari-hari manusia menjalankan perannya sebagai petani, karyawan, pelajar, guru, anak, orang tua, dan aneka ragam peran dan profesi lainnya. Setiap grup teater akan memiliki karakter penampilannya ketika grup tersebut memegang teguh konsep dramaturgi yang dipilihnya. Keteguhan pada pilihan konsep dramaturgi dipengaruhi oleh proses kreatif sebuah grup teater mulai dari sumber gagasan atau ide lakon yang akan diusungnya, bagaimana mengolah gagasan menjadi lakon, memproses lakon menjadi permainan atau pementasan, sampai kepada bagaimana mendatangkan penonton. Melalui proses kreatif seperti itulah, pembelajaran teater untuk siswa kelas 10 ini akan dilakukan.

Pada perkembangannya, dramaturgi dipahami sebagai bagian dari konsep penyutradaraan. Sebagai konsep penyutradaraan, dramaturgi menjadi penciri pada setiap penampilan grup teater baik pada pendekatan lakon maupun pada penyajian bentuk pementasannya. Setiap grup teater akan memiliki karakter penampilannya ketika grup tersebut memegang teguh konsep dramaturgi yang dipilihnya. Keteguhan pada pilihan konsep dramaturgi dipengaruhi oleh proses kreatif sebuah grup teater mulai dari sumber gagasan atau ide lakon yang akan diusungnya, bagaimana mengolah gagasan menjadi lakon, memproses lakon menjadi permainan atau pementasan, sampai kepada bagaimana mendatangkan penonton. Melalui proses kreatif seperti itulah, pembelajaran teater untuk siswa kelas 10 ini akan dilakukan.

B. Perbedaan Drama dan Teater

C. Teater sebagai Cerminan Masyarakat

Pada masyarakat tradisional kuno, teater memang erat kaitannya dengan ritual kepercayaan masyarakat dalam melakukan pemujaan. Namun dalam perkembangannya teater menjadi cermin kehidupan masyarakat pada semua dimensi kehidupan manusia, baik yang terkait dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun pendidikan dan agama. Pada akhirnya, teater dapat menampilkan lakon yang merefleksikan kehidupan masyarakat pada semua dimensinya. Teater, melalui kemampuan akting pemain, menghadirkan pengalaman manusia, baik pengalaman luar (lahiriah) maupun pengalaman dalam (batiniah) manusia. 

Dalam proses penciptaan pertunjukan teater, seorang sutradara selalu berupaya untuk menghidupkan suasana pemanggungan sehingga berbentuk tontonan teater yang mengasyikkan bagi yang menontonnya. Pemanggungan teater tidak melulu menampilkan kepiawaian aktor dalam berakting sebagai hal yang utama untuk menyampaikan pesan, tetapi ada unsur pendukung lainnya sebagai pelengkap wujud pertunjukan tersebut. Unsur seni rupa seperti set dekor panggung, tata rias, tata busana, tata musik, dan tata cahaya yang akan membuat teater memiliki daya takjub sehingga mampu menghipnotis para penontonnya. Hal ini dapat menjadi alasan bahwa teater lebih kompleks untuk menciptakan keindahannya dari seni lainnya.

Walau berakting adalah permainan pura-pura, sebagai cermin masyarakat, teater tidak berpura-pura dalam memberikan pesannya melalui permainan aktor. Teater adalah salah satu bentuk seni yang sarat dengan unsur pendidikan. Sebagaimana yang dinyatakan Gus Dur: “Teater tidak mengajarkan orang berpura-pura, tapi melatih orang sungguh-sungguh untuk menghadirkan atau pribadi orang lain” (Gusdur dalam Wijaya., 42). 

Dari petikan di atas sangat cocok jika siswa mempelajari teater sebagai bagian dari pembelajaran di sekolah sehingga siswa akan mendapatkan pembelajaran tentang kehidupan di masyarakat lingkungannya. Tingkah laku, sikap sosialisasi, cara bertutur, kepekaan sekitar, toleran, jujur, ikhlas, dan kerja sama. Siswa juga harus mampu membuat pertunjukan teater yang baik dii sekolah dengan menulis naskah lakon yang temanya bisa dijadikan contoh, misalnya persahabatan lain suku, sehingga masyarakat bisa bercermin dari pertunjukan teater tersebut.

Kamis, 02 Januari 2025

Seni Teater (Part 1)


Seni Teater



A. Pengertian Teater

Seni Teater (bahasa Inggris: theater atau theatre; bahasa Prancis: théâtre; bahasa Yunani: theatron adalah salah satu seni bermain peran (drama) yang menyajikan cerita kehidupan nyata di atas pentas. Teater adalah cabang kesenian yang lahir pada masa Yunani klasik.

Kata ‘teater’ berasal dari kata theatron, bahasa Yunani, yang berarti tempat tontonan (seeing place) atau gedung pertunjukan. Bentuk Theatron pada saat itu terdiri dari panggung (stage) juga ada tempat duduk penonton yang terbuat dari batu berposisi setengah lingkaran. Melalui ritual menari dan menyanyi, masyarakat Yunani purba (sekitar tahun 600 SM) melakukan persembahan terhadap Dewa Anggur dan Dewa Kesuburan, yang bernama Dewa Dionysus. Menurut keyakinan masyarakat Yunani purba, upacara ini dilakukan sebagai permohonan kepada Dewa Dionysus agar berkenan menurunkan kesuburan dan kemakmuran kehidupan mereka. Pada masa itu, sekitar 500 tahun SM dimainkan di atas altar oleh pendeta-pendeta dan salah satu adegannya adalah upacara memberi kurban pada dewa. Hingga kemudian bentuk itu berubah pada masa Athena, kurban diganti oleh peran antagonis yang dihukum atas dasar kehendak masyarakat dan mati bagi semua orang.

Dalam makna tersebut teater modern Indonesia dipahami secara konseptual (teater realis) dimulai sejak Usmar Ismail dan Asrul Sani mendirikan ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) pada 10 September 1955 di Jakarta. Sejak saat itu, bentuk teater di Indonesia mengalami perubahan yang cukup mendasar dibandingkan dengan bentuk-bentuk tradisionalnya, seperti Randai, Ludruk, Mahyong, Ketoprak, dan Ledhek.

B. Perkembangan Teater

Sejarah merupakan peristiwa yang terjadi di masa lalu. Perkembangan adalah proses berkembangnya sesuatu. Jika dikaitkan dengan judul pembelajaran di atas, Sejarah dan Perkembangan Teater, maka pengertiannya menjadi “peristiwa teater yang terjadi di masa lalu dan proses berkembangnya hingga saat ini.” Mengetahui apa dan bagaimana teater di masa lalu dimaksudkan untuk mengenal dan memahami teater sejak mula tercipta, proses berkembangnya yang melahirkan banyak jenis dan bentuk, sampai ke perubahan-perubahan konvensi dari zaman ke zaman.

Gambar 1 Infografis Perkembangan Teater

Upacara sesembahan dilakukan dalam setengah hari yaitu sejak pagi sampai berakhir menjelang sore hari. Di atas panggung yang ada di theatron itu, para tetua adat melakukan ritual tarian dengan menggunakan topeng yang diiringi nyanyian-nyanyian pemujaan. Aksi tarian ritual yang diiringi nyanyian tersebut dinamai Dram atau Draomai.

Dari asal kata Dram atau Draomai itulah istilah ‘Drama’ dikenal. Ada lima fase penting dalam perkembangan teater di dunia, yaitu:

1. Teater Primitif/Klasik (1000 SM – Abad ke-6 M)

Teater Primitif atau Teater Klasik sangat erat kaitannya dengan upacara ritual keagamaan masyarakat pada saat itu. Sebuah upacara keagamaan yang berupa tarian, nyanyian dan pujian-pujian dari potongan naskah kitab suci. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam teater klasik seringkali berhubungan dengan pemimpin agama atau representasi dewa-dewa yang mereka sembah. Pada fase ini, bukan saja teater primitif dan zaman Yunani kuno, juga ada Teater Romawi yang berbeda dengan Teater Yunani. Misalnya pada Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. Peran musik menjadi dominan karena pelengkap ilustrasi setiap pengadeganan. Lakon cenderung mengusung kesenjangan hidup kelas menengah.
Gambar 2 Theatron Zaman Yunani Kuno. 
Sumber: Toughco.com/ Ventura Carmona (2019)

Ciri-ciri dan bentuk pentasnya:
a. Bagian dari ritual keagamaan
b. Menggunakan topeng
c. Kisah Tragedi dan Komedia
d. Panggung terbuka dan tinggi berbentuk amphitheater
e. Dimainkan para pria
f. Ada kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator


2. Teater Abad Pertengahan (Abad ke-14 – Abad ke-16)

Pentas-pentas teater di abad pertengahan memang masih berorientasi pada perayaan keagamaan (terutama Kristen). Pentas teater banyak dilakukan di gereja-gereja. Namun sejak ada pelarangan pentas teater di dalam gereja, panggung berpindah ke jalan-jalan dan berkeliling karena panggung dibuat di atas kereta yang bergerak dinamis.

Para pemain (aktor) teater banyak belajar di universitas. Tema-tema lakon tentang pengetahuan, kebajikan, kebodohan, kehidupan kaya-miskin, dan sebagainya. Pentas teater di zaman ini acap disebut drama moral karena cenderung mengusung pertarungan kebaikan melawan keburukan atau kejahatan.

Pada sekitaran abad ini, selain Teater Renaissance, ada juga Teater Neo Klasik, Teater Zaman Elizabethan, dan Teater Restorasi. Bentuk pertunjukan merupakan paduan teater keliling dengan teater akademi yang cenderung klasik. Pada akhir abad ke-16 tumbuh Teater Romantik dan Melodrama.

Ciri-ciri dan bentuk pentasnya:
a. Panggung di atas kereta yang berkeliling
b. Dekor sederhana dan simbolis
c. Lirik dialog berdialek dengan dialog yang puitis
d. Dimainkan di tempat umum dan memungut bayaran
e. Tidak ada nama pengarang untuk lakon yang dimainkan
f. Lakon dikaitkan dengan filsafat dan agama

3. Teater Realis (Mulai dari Abad 18 dan 19 )

Zaman Realisme ini menjadi konvensi baru yang menandai perubahan teater ke arah seni drama modern. Lakon-lakon teater pada zaman ini tidak lagi berkisah tentang hal-hal yang khayali tetapi lebih banyak mengangkat realita kehidupan sehari-hari. Pola permainan (akting) tidak berorientasi pada keindahan bentuk dengan dialog yang puitis, tetapi merupakan gambaran kenyataan kehidupan masyarakat dalam keseharian atau apa adanya.

Ciri-ciri dan bentuk pentasnya:
a. Terbagi dua aliran: realisme sosial dan realisme psikologis
b. Lakon tentang kehidupan sehari-hari
c. Pemeran utama biasanya rakyat jelata
d. Aktingnya bersifat wajar, tidak berlebihan, seperti kehidupan sehari-hari
e. Aspek pendukung dan visual disesuaikan dengan keadaan sehari-hari
f. Aliran realisme psikologis lebih menonjolkan aspek kejiwaan tokoh
g. Suasana ditampilkan secara simbolis untuk mendukung aspek psikologis tokoh.
h. Lebih mementingkan pembinaan konflik kejiwaan tokoh.

4. Teater Baru / Avant Garde (Mulai Abad 19)

Yang menonjol pada fase Teater Baru atau Teater Avant Garde yaitu munculnya elemen efek-efek khusus dengan teknologi elektronik baru pada tatanan pencahayaan, dekor panggung, dan musik pengiring atau ilustrasi.

Bentuk permainan banyak bersifat eksperimentatif yang tidak mengikuti selera masyarakat. Para dramawan di fase abad ini banyak melahirkan bentuk-bentuk pertunjukan yang menggunakan pendekatan simbolisme, surealisme, epik, dan absurd. Sehingga di zaman ini muncul keanekaragaman bentuk ekspresi dan makna keindahan dari pentas teater.

Ciri-ciri dan bentuk pentasnya:
a. Kreasi artistik bersifat spontan dan agresif Cenderung berbenturan dengan selera masyarakat.
b. Tidak lazim karena menyimpang dari bentuk Alamiah
c. Karya yang merdeka karena lahir dari karakter penciptanya
d. Pertunjukan menggunakan berbagai variasi materi (film, tari, puisi, musik, dsb.)

5. Teater Post-Modern (Mulai tahun 1970)

Aliran teater yang berkembang setelah modern ini relatif baru, dimulai sekitar tahun 1970-an.
Para penganut aliran post-modern mengibaratkan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara yang terpisah-pisah. Teater menjadi pilihan bentuk untuk menggambarkan tragedi kehidupan itu. Teater post-modern menjadi penolakan atas kehidupan modern.

Teater Post-Modern mengurangi penggunaan naskah atau teks lakon untuk mendapatkan penampilan yang bersifat unik dan langsung atau spontan.

Ciri-ciri dan bentuk pentasnya:
a. Bersifat depolitisasi seni
b. Menitikberatkan pada aktivitas teori
c. Tak dapat dijelaskan dengan struktur yang jelas
d. Cerita yang tidak beraturan alurnya.
e. Melahirkan ragam sudut pandang/resepsi
f. Membuat jaringan antara teori dan praktik
g. Penuh dengan eksperimen gaya
h. Pemain dianggap bukan aktor tetapi penanda
i. Properti panggung mudah diubah bentuknya

Bahan bacaan siswa yang dianjurkan:
1. Asul Wiyanto. 2002. Terampil Bermain Drama. Jakarta: Grasindo.
2.Iswadi Pratama, dkk. 2010. Teater Asyik, Asyik Teater. Lampung: Teater Satu.




Pengimbasan Pengkin di SMKN 1 Samigaluh

Belajar Tumbuh Bersama: Catatan Saya dari Pengimbasan Pengelolaan Kinerja Guru di SMK Negeri 1 Samigaluh

Tahun 2025 saya awali dengan penuh syukur dan semangat. Pada hari kamis tanggal 2 Januari, saya diberi kesempatan untuk menjadi narasumber dalam kegiatan Pengimbasan Pengelolaan Kinerja Guru yang diselenggarakan oleh SMK Negeri 1 Samigaluh. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru dan karyawan, dan berlangsung dari pukul 13.00 hingga 16.00 WIB.

Disambut dengan hangat oleh Ari Daruningsih, S.Pd., M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Samigaluh, saya merasa sangat terhormat bisa hadir dan berbagi di lingkungan sekolah yang begitu antusias dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dalam sambutannya, Kepala Sekolah menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang profesional, terukur, dan kolaboratif — sesuatu yang juga menjadi semangat utama dalam kegiatan hari itu.

Membuka Kesadaran Bersama tentang Kinerja Guru

Saya memulai sesi dengan survey pengetahuan awal peserta mengenai pengelolaan kinerja guru. Dari hasil tanggapan yang muncul, saya melihat bahwa sebagian besar guru masih memandang pengelolaan kinerja sebagai kegiatan administratif tahunan. Ini menjadi titik tolak diskusi kami hari itu: bahwa kinerja guru bukan sekadar laporan, tapi cerminan proses belajar, berkembang, dan memberikan dampak nyata.

Kami kemudian mendalami landasan regulasi yang melandasi sistem pengelolaan kinerja saat ini, termasuk kebijakan-kebijakan terbaru dari Kemendikbudristek. Peserta tampak aktif mencermati dan menanyakan hal-hal teknis yang selama ini belum sepenuhnya dipahami.

Mendalami Mekanisme dan Variabel Kinerja Guru

Sesi dilanjutkan dengan penjelasan tentang mekanisme pengelolaan kinerja guru, mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, hingga evaluasi. Saya juga memperkenalkan variabel-variabel utama dalam penilaian kinerja, yang meliputi kompetensi, keterlibatan, dan peran tambahan di lingkungan sekolah.

Diskusi berlangsung hangat dan terbuka. Beberapa guru menyampaikan pengalaman mereka saat menjalani penilaian kinerja sebelumnya, serta harapan agar sistem ke depan bisa lebih memotivasi, bukan sekadar menjadi kewajiban administratif.

Refleksi yang Menguatkan

Kegiatan diakhiri dengan refleksi terbuka. Banyak peserta menyampaikan bahwa mereka merasa lebih paham akan esensi dari pengelolaan kinerja guru. Beberapa bahkan menyebut bahwa kegiatan ini menyadarkan mereka untuk lebih merancang perencanaan kerja yang tidak hanya terukur, tapi juga bermakna dan berdampak bagi peserta didik.

“Kami jadi lebih paham bahwa pengelolaan kinerja bukan sekadar kewajiban tahunan, tapi bagian penting dari proses tumbuh bersama sebagai pendidik,” ujar salah satu peserta.

“Ternyata kita bisa mengelola kinerja kita dengan cara yang lebih reflektif, bukan sekadar formalitas,” ujar peserta lainnya, yang membuat saya merasa sangat terharu dan bersyukur.

Menutup dengan Harapan

Saya pribadi merasa bahwa kegiatan ini bukan sekadar berbagi ilmu, tapi juga momen untuk belajar bersama dan saling menguatkan. Sebagai guru, kita tumbuh dalam kolaborasi — dan pengelolaan kinerja bukanlah beban, melainkan ruang untuk terus berkembang dan berkontribusi lebih baik.

Terima kasih untuk keluarga besar SMK Negeri 1 Samigaluh atas kesempatan dan semangat luar biasa hari itu. Semoga kegiatan ini menjadi awal yang baik untuk tahun yang penuh pertumbuhan dan perubahan positif.

Sinau Wayang (One Day One Wayang) #48

Batara Yama Hallo Sobat Budaya. Pecinta Wayang Jawa Sinau Wayang Part #48, Selasa Kliwon tanggal 17 Februari 2026, Rienz Kinarya melanjutkan...