SMK Negeri 1 Pleret

SMK Negeri 1 Pleret, berlokasi di Jalan Imogiri Timur, km.9 Dusun Jati, Desa Wonokromo, Kapanewon Pleret, Daerah Istimewa Yogyakarta
Terdapat 4 Kompetensi Keahlian, Yaitu:
1. Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL)
2. Teknik Jaringan Tenaga Listrik (TJTL)
3. Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ)
4. Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM)

Kelas Seni Budaya Bersama Bu Rienz

Jika anda menempuh pendidikan di SMKN 1 Pleret, nanti akan berjumpa dengan Bu Rienz di kelas Seni Budaya.
Kelas Seni Budaya hanya ditempuh di kelas X saja, dengan jumlah jam tatap muka 3 JPL dalam sepekan.

Kegiatan SAGUGABLOG Lanjut 70

Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyelenggarakan kegiatan yang sangat menarik, yaitu Sagusablog, atau SAtu GUru SAtu BLOG.
Kegiatan ini diawali dengan kelas sagusablog dasar, kemudian bagi peserta yang lulus, diperbolehkan untuk mengikuti kelas sagusablog lanjut.

Sabtu, 29 November 2025

ACT Meet Up 28 November 2025

ACT Meet Up 28 November 2025: Sosialisasi ACT Level 2 dan Penguatan Komitmen sebagai Trainer

Jumat, 28 November 2025 menjadi salah satu agenda penting dalam perjalanan saya sebagai bagian dari Assemblr Certified Trainer (ACT). Melalui pertemuan daring via Google Meet, saya bersama rekan-rekan ACT dari berbagai daerah mengikuti kegiatan ACT Meet Up (Sosialisasi ACT Level 2). Pertemuan ini bukan sekadar penyampaian informasi program lanjutan, tetapi juga menjadi ruang penguatan komitmen dan arah perjalanan kami sebagai trainer.

Sosialisasi ACT Level 2 di ACT Meet Up 28 November 2025: Mekanisme, Syarat, dan Hak ACT

Agenda utama dalam meet up ini adalah sosialisasi Program ACT Level 2. Dalam sesi tersebut dijelaskan secara rinci mengenai mekanisme ACT Level 2, termasuk tahapan seleksi dan persyaratan yang harus dipenuhi bagi ACT Level 1 yang ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya. Penjelasan ini membuka perspektif baru bahwa setiap level dalam program ACT dirancang bukan hanya sebagai peningkatan status, tetapi sebagai peningkatan kualitas dan tanggung jawab profesional.

Selain mekanisme dan syarat kelanjutan, dibahas pula hak dan kewajiban sebagai ACT. Sebagai trainer, kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga kualitas pengimbasan, konsistensi kontribusi, serta profesionalisme dalam setiap kegiatan pelatihan. Di sisi lain, ada hak yang diberikan sebagai bentuk dukungan komunitas, mulai dari akses pengembangan kapasitas hingga peluang kolaborasi yang lebih luas. Diskusi ini mengingatkan saya bahwa menjadi ACT bukan sekadar gelar, melainkan amanah.

Salah satu poin yang cukup menarik perhatian adalah ketentuan privilege akun premium bagi ACT. Fasilitas ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus dukungan agar trainer dapat lebih maksimal dalam mengeksplorasi fitur dan mengembangkan materi pelatihan. Namun, privilege tersebut tentu diiringi dengan komitmen untuk terus aktif, produktif, dan menjaga integritas sebagai bagian dari komunitas profesional.

Bagi saya pribadi, sosialisasi ACT Level 2 ini menjadi momentum refleksi. Apakah saya sudah menjalankan peran sebagai ACT secara optimal? Apakah kontribusi yang saya berikan sudah berdampak luas? Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru memotivasi saya untuk terus meningkatkan kualitas diri. Level bukan sekadar pencapaian administratif, tetapi simbol kesiapan untuk bertanggung jawab lebih besar.

Pertemuan ini juga memperlihatkan keseriusan tim Assemblr EDU dalam membangun ekosistem trainer yang berjenjang, terstruktur, dan berorientasi pada mutu. Dengan sistem yang jelas, ACT tidak hanya menjadi komunitas, tetapi juga ruang pengembangan profesional yang berkelanjutan.

Saya menutup sesi sosialisasi ini dengan semangat baru. Melanjutkan ke ACT Level 2 bukan sekadar target, tetapi proses yang perlu dipersiapkan dengan matang. Apa pun tahapnya, yang terpenting adalah konsistensi dalam berkarya, komitmen dalam berbagi, dan keberanian untuk terus bertumbuh. Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam menghadirkan pelatihan yang semakin berkualitas dan berdampak bagi dunia pendidikan Indonesia

Jumat, 21 November 2025

ACT Meet Up 21 November

ACT Meet Up 21 November 2025: Penguatan LKPD Interaktif 3D/AR dan Peluang Kurasi LKPD Printable Assemblr EDU

Menguatkan Komitmen LKPD Interaktif Berbasis 3D/AR

Hari Jumat, 21 November 2025 menjadi salah satu momentum penting bagi saya dan lebih dari 500 Assemblr Certified Trainer (ACT) dari seluruh Indonesia. Melalui pertemuan daring via Google Meet yang diselenggarakan oleh tim Assemblr EDU, kami mengikuti ACT Meet Up (Penguatan Refreshment ACT Batch 1). Saya hadir sebagai bagian dari ACT Level 1 Batch 1, bersama rekan-rekan trainer yang memiliki semangat yang sama: terus belajar dan memperkuat kualitas pengimbasan.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan ACT Training Refreshment yang telah dilaksanakan pada 14 November 2025. Fokus utama yang dibahas adalah review dan penguatan proses pembuatan LKPD interaktif berbasis 3D/AR, sebagai salah satu bentuk komitmen kami dalam menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan bermakna. Materi disampaikan secara sistematis oleh Muhammad Hilmy dari tim Assemblr EDU, yang mengulas kembali standar, alur kerja, serta kualitas yang diharapkan dari setiap karya LKPD yang dibuat oleh ACT.

Dalam sesi tersebut, kami kembali diingatkan bahwa LKPD yang dirancang tidak hanya sekadar menarik secara visual, tetapi juga harus memiliki tujuan pembelajaran yang jelas, alur aktivitas yang runtut, serta integrasi 3D/AR yang relevan dengan materi. Teknologi bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari pengalaman belajar. Inilah yang membedakan LKPD biasa dengan LKPD interaktif berbasis immersive learning.

Salah satu bagian penting yang dibahas adalah poin-poin tugas pembuatan LKPD, termasuk kriteria kurasi agar karya dapat lolos seleksi dan terpajang pada menu LKPD Printable di web Assemblr EDU. Standar kurasi mencakup kualitas konten, kesesuaian dengan kurikulum, desain yang komunikatif, hingga kebermanfaatan praktis bagi guru dan siswa. Tips-tips yang dibagikan sangat aplikatif—mulai dari memperjelas instruksi dalam LKPD, memastikan visual 3D benar-benar mendukung konsep, hingga menjaga tata letak agar tetap nyaman saat dicetak.

Namun, momen paling berkesan bagi saya adalah ketika disampaikan informasi bahwa LKPD yang lolos kurasi dan terpajang di web Assemblr EDU akan dipasarkan dengan harga yang layak, dan komisi sebesar 100% menjadi hak pembuatnya. Bagi saya, ini bukan hanya tentang insentif finansial, tetapi tentang penghargaan terhadap karya dan profesionalisme guru. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa kreativitas dan inovasi pendidik memiliki nilai dan layak diapresiasi secara konkret.

Sebagai ACT, saya merasa semakin dikuatkan bahwa peran kami bukan hanya sebagai trainer yang mengimbaskan materi, tetapi juga sebagai kreator konten pembelajaran yang berkualitas. Komitmen terhadap mutu, konsistensi dalam berkarya, serta kesiapan untuk terus belajar menjadi fondasi utama dalam perjalanan ini. Dengan jumlah peserta lebih dari 500 ACT dari berbagai daerah, saya juga merasakan betapa besarnya potensi kolaborasi dan dampak yang bisa dihasilkan bersama.

ACT Meet Up ini bukan sekadar pertemuan daring. Ia adalah pengingat bahwa inovasi pendidikan membutuhkan komunitas yang saling menguatkan. Saya menutup sesi dengan semangat baru—untuk mulai merancang LKPD yang tidak hanya interaktif dan menarik, tetapi juga layak kurasi dan memberi manfaat luas bagi guru di seluruh Indonesia.

Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari gerakan besar transformasi pembelajaran berbasis 3D dan AR di Indonesia. Karena ketika guru diberi ruang untuk berkarya dan dihargai secara profesional, maka kualitas pendidikan pun akan ikut terangkat

Prestasi Anak Negeri Radio Edukasi BBGTK DIY #29

Prestasi Anak Negeri: Berbagi Inspirasi Belajar Seru dengan Assemblr EDU

Kamis, 20 November 2025 menjadi salah satu momen berharga dalam perjalanan profesional saya. Saya mendapatkan kesempatan menjadi narasumber dalam program Prestasi Anak Negeri yang diselenggarakan oleh Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan DIY. Segmen ini ditayangkan melalui Radio Edukasi serta disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube mereka. Mengangkat topik “Belajar Seru dengan Assemblr EDU”, saya hadir bukan hanya sebagai guru, tetapi sebagai pembelajar yang ingin berbagi pengalaman dan semangat inovasi.

Pada kesempatan tersebut, saya juga memperkenalkan diri sebagai guru dari SMK Negeri 1 Seyegan sekaligus sebagai Assemblr Certified Educator Level 7. Ketika ditanya tentang perasaan meraih level tersebut, saya menjawab dengan jujur: bangga, bersyukur, sekaligus merasa tertantang. Level bukan sekadar angka, tetapi representasi dari proses belajar yang panjang, konsistensi, dan keberanian untuk mencoba hal baru dalam pembelajaran.
Diskusi kemudian mengalir pada motivasi saya mempelajari dan mengembangkan penggunaan Assemblr EDU. Saya menyampaikan bahwa ketertarikan saya bermula dari keinginan membuat pembelajaran lebih hidup dan bermakna. Di era digital, siswa membutuhkan pengalaman belajar yang tidak hanya tekstual, tetapi visual, interaktif, dan kontekstual. Assemblr EDU menawarkan ruang itu—menggabungkan teknologi 3D, augmented reality, dan kreativitas guru dalam satu platform yang mudah diakses.
Dalam sesi siaran, saya juga menjelaskan apa itu Assemblr EDU, bagaimana cara kerjanya, serta fitur-fitur unggulannya, termasuk 3D Generation berbasis AI dan kemampuannya digunakan secara offline. Pertanyaan tentang apakah platform ini berbayar juga menjadi bahasan penting, karena banyak guru yang mempertimbangkan aspek aksesibilitas. Saya menekankan bahwa teknologi akan berdampak besar jika dapat dijangkau dan dimanfaatkan secara maksimal oleh guru di berbagai daerah.
Tidak hanya membahas kelebihan, saya juga berbagi tantangan yang pernah saya hadapi: keterbatasan perangkat, adaptasi siswa, hingga proses belajar fitur baru yang terus berkembang. Namun di situlah letak pembelajaran sesungguhnya. Setiap tantangan adalah ruang bertumbuh. Saya juga membagikan tips sederhana bagi guru yang ingin memulai: mulai dari proyek kecil, sesuaikan dengan tujuan pembelajaran, dan jangan takut bereksperimen.
Bagi saya, tampil di program Prestasi Anak Negeri bukan sekadar berbicara di radio atau live YouTube. Ini adalah ruang untuk menyampaikan pesan bahwa guru Indonesia mampu berinovasi dan berprestasi. Bahwa teknologi bukan ancaman, tetapi alat untuk memperkaya pengalaman belajar. Dan bahwa setiap guru memiliki peluang yang sama untuk berkembang, selama mau belajar dan berbagi.
Saya menutup sesi dengan harapan sederhana: semoga semakin banyak guru yang berani mencoba pembelajaran berbasis teknologi, semakin banyak siswa yang merasakan belajar dengan cara yang menyenangkan, dan semakin luas kolaborasi yang terbangun di dunia pendidikan. Karena pada akhirnya, prestasi bukan hanya tentang capaian pribadi, tetapi tentang dampak yang kita hadirkan bagi generasi berikutnya.
#AssemblrCertifiedEducator
#AssemblrEDU
#AssemblrWorld
Segmen ini disiarkan Live Streaming melalui:
▪️ bbgtkdiy.kemendikdasmen.go.id/radioedukasi
▪️ Kanal YouTube Balai Besar GTK DIY


Jumat, 14 November 2025

ACT Training Refreshment

ACT Training Refreshment : Mengenal Fitur LKPD Printable di Assemblr EDU

Tanggal 14 November 2025 menjadi momen penting dalam perjalanan saya sebagai bagian dari Assemblr Certified Trainer (ACT). Pada hari itu, saya mengikuti kegiatan ACT Training Refreshment, sebuah sesi penyegaran kompetensi yang secara khusus membahas pengenalan fitur baru di Assemblr EDU, yaitu LKPD Printable. Kegiatan ini dipandu oleh Mas Azka selaku PJ ACT, dan diikuti oleh para ACT Level 1 Batch 1 dalam suasana yang interaktif dan penuh antusiasme.

Agenda inti dari Training Refreshment ini adalah eksplorasi fitur LKPD Printable, sebuah inovasi yang memungkinkan trainer dan educator membuat Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang dapat dicetak langsung melalui sistem. Fitur ini menjadi langkah strategis dalam mengintegrasikan pembelajaran berbasis teknologi dengan kebutuhan administrasi dan praktik pembelajaran di kelas. Dengan adanya LKPD Printable, pengalaman belajar berbasis immersive dapat dipadukan dengan aktivitas tertulis yang lebih terstruktur dan aplikatif.

Dalam sesi tersebut, kami mendapatkan materi spesial mengenai proses pembuatan LKPD yang sesuai standar agar dapat ditayangkan pada menu LKPD Printable. Penyampaikan materi oleh mas Hilmy memberikan pengalaman baru bagi kami untuk bisa membuat dan mengetahui tips dan syarat karya yang memenuhi standar Assemblr EDU. Nantinya, tidak semua karya otomatis dipublikasikan; ada kriteria dan ketentuan yang harus dipenuhi, mulai dari kualitas konten, kesesuaian dengan pembelajaran, hingga kelayakan desain. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi tetap harus dibarengi dengan standar mutu yang jelas. Sebagai ACT, kami tidak hanya diajak mencoba fitur, tetapi juga didorong untuk menghasilkan karya terbaik yang benar-benar siap digunakan oleh guru lain.

Saya melihat fitur ini sebagai peluang besar, bukan hanya untuk memperkaya materi pelatihan, tetapi juga untuk memperluas dampak karya trainer. Jika LKPD yang dibuat memenuhi syarat dan ditayangkan di menu resmi, maka manfaatnya tidak lagi terbatas pada satu sesi pelatihan, melainkan bisa diakses oleh lebih banyak pengguna. Ini menjadi motivasi tersendiri untuk lebih serius dalam merancang LKPD yang kreatif, kontekstual, dan bermakna.

Dipandu oleh Mas Azka, sesi berjalan sistematis dan aplikatif. Kami tidak hanya memahami konsep fitur, tetapi juga melihat bagaimana strategi implementasinya dalam pelatihan maupun di kelas. Diskusi yang muncul pun sangat konstruktif—mulai dari ide desain LKPD, penyelarasan dengan tujuan pembelajaran, hingga potensi integrasi dengan proyek berbasis AR.

ACT Training Refreshment kali ini benar-benar terasa sebagai “penyegaran” dalam arti yang sesungguhnya. Bukan sekadar update fitur, tetapi penguatan peran sebagai trainer yang produktif dan inovatif. Saya pulang dari sesi ini dengan semangat baru untuk mulai merancang LKPD yang tidak hanya informatif, tetapi juga layak tayang dan memberi manfaat lebih luas.
Semoga melalui fitur LKPD Printable ini, semakin banyak karya ACT yang terpublikasi dan menjadi referensi pembelajaran inspiratif bagi para pendidik di berbagai daerah. Karena pada akhirnya, inovasi teknologi akan bermakna ketika diolah dengan kreativitas dan komitmen untuk memberi dampak nyata 🌱✨

#AssemblrCertifiedTrainer
#AssemblrEDU
#AsssemblrWorld

Jumat, 07 November 2025

ACT Meet Up #November 2025

Assemblr Certified Trainer Meet Up : Menguatkan Peran sebagai Assemblr Certified Trainer

Tanggal 7 November 2025 menjadi momen yang bermakna dalam perjalanan saya sebagai bagian dari komunitas Assemblr Certified Trainer (ACT). ACT merupakan program penguatan peran trainer dari komunitas Assemblr Certified Educator yang berfokus pada penyebarluasan praktik pembelajaran berbasis teknologi immersive. Pada kesempatan ini, para ACT Level 1 Batch 1 berkumpul dalam sebuah sesi Meet Up yang dipandu oleh Mas Azka dan Pak Deden. Suasananya hangat, terbuka, dan penuh semangat kolaboratif.

 

Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang strategis untuk berbagi perkembangan dan capaian. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah pengumuman ACT of the Month Oktober 2025, sebagai bentuk apresiasi bagi trainer yang menunjukkan dedikasi, konsistensi, dan kontribusi aktif dalam kegiatan pengimbasan. Berbeda dengan ACE of the Month yang hanya memilih 1 orang ACE yang terbaik di bulan berjalan, ACT of The Month memilih 3 ACT terbaik di bulan Oktober, yaitu ACT yang memperoleh peserta pengimbasan terbanyak pada bulan Oktober. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh selalu memiliki ruang untuk dihargai. Bagi saya pribadi, momen ini bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat bahwa profesionalisme seorang trainer dibangun dari komitmen jangka panjang.

Adapun ACT of The Month Bulan Oktober, diraih oleh ACT yang sangat keren, yaitu:

  1. Bapak Tri Goesema Putra, M.Pd dari Provinsi Riau dengan jumlah peserta pengimbasan 70 peserta
  2. Ibu Siti Zubaidah, M.Pd. dari Provinsi Jawa Timur dengan 19 peserta
  3. Ibu Jumiati, S.Pd., M.Pd. dari Provinsi Kalimantan Timur dengan jumlah peserta pengimbasan 50 orang

Selain itu, dibahas pula berbagai manfaat mengikuti program ACT. Tidak hanya mendapatkan penguatan kompetensi sebagai trainer, ACT juga membuka peluang jejaring profesional yang lebih luas, akses pada pengembangan kapasitas, serta kesempatan untuk tampil dalam berbagai kegiatan pelatihan. Program ini mendorong kami untuk terus meningkatkan kualitas penyampaian materi, memperdalam pemahaman terhadap fitur dan inovasi pembelajaran, serta membangun personal branding sebagai trainer yang berdampak.

Hal menarik lainnya adalah pemberian penghargaan bagi ACT dengan peserta pengimbasan terbanyak selama bulan Oktober. Penghargaan ini menegaskan bahwa dampak nyata menjadi indikator utama dalam komunitas ini. Bukan sekadar aktif, tetapi sejauh mana pelatihan yang dilakukan benar-benar menjangkau dan menggerakkan lebih banyak pendidik. Diskusi mengenai strategi memperluas pengimbasan, menjaga kualitas pelatihan, dan membangun keberlanjutan program menjadi bagian yang sangat inspiratif dalam sesi ini. Saya merasakan bahwa ACT Meet Up ini menjadi ruang refleksi yang penting. Menjadi trainer bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi tentang menghadirkan pengalaman belajar yang memberdayakan. Setiap sesi pengimbasan adalah kesempatan untuk membuka wawasan baru bagi guru-guru lain, dan setiap peserta yang terinspirasi adalah bukti bahwa kolaborasi ini bermakna.

Kehadiran Mas Azka dan Pak Deden sebagai fasilitator membuat diskusi berjalan dinamis dan terarah. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diajukan mendorong kami untuk melihat kembali tujuan awal menjadi ACT: bukan sekadar mengejar angka peserta, tetapi membangun kualitas dan keberlanjutan dampak. Di sinilah saya menyadari bahwa komunitas ini bukan hanya wadah profesional, tetapi juga ruang bertumbuh yang saling menguatkan.

ACT Meet Up 7 November 2025 menjadi pengingat bahwa perjalanan sebagai Assemblr Certified Trainer masih terus berproses. Ada tanggung jawab untuk terus belajar, memperluas dampak, dan menjaga semangat kolaborasi. Saya pulang dari pertemuan ini dengan energi baru dan komitmen yang lebih kuat—bahwa setiap langkah kecil dalam pengimbasan bisa menjadi kontribusi besar bagi transformasi pembelajaran. Semoga ke depan semakin banyak ACT yang aktif, inovatif, dan konsisten dalam berbagi. Karena pada akhirnya, menjadi trainer bukan tentang seberapa sering kita tampil, tetapi seberapa luas dampak yang bisa kita hadirkan

#AssemblrCertifiedTrainer
#AsssemblrEDU
#AssemblrWorld

Minggu, 02 November 2025

Menjadi ACE of The Month September-Oktober 2025

ACE of the Month: Tentang Konsistensi, Keikhlasan, dan Komunitas

Perjalanan Menjadi ACE of the Month Dua Bulan Berturut-turut

ACE of the Month adalah bentuk apresiasi bulanan dari komunitas Assemblr Certified Educator (ACE) kepada pendidik yang secara konsisten belajar, berbagi, dan memberi dampak positif di komunitas maupun di kelasnya. Penghargaan ini tidak lahir dari kompetisi, melainkan dari proses—tentang kehadiran yang tulus, kemauan untuk terus bertumbuh, serta semangat saling menguatkan antar sesama educator. Dari pemahaman inilah perjalanan saya bermula, sebuah perjalanan yang akhirnya membawa saya terpilih sebagai ACE of the Month pada bulan September dan Oktober 2025.

Dua Bulan Berturut-turut Menjadi ACE of the Month: Ini Cerita dan Pelajarannya

Menjadi bagian dari komunitas Assemblr Certified Educator (ACE) adalah salah satu pengalaman yang sangat berharga dalam perjalanan profesional saya sebagai pendidik. Namun, terpilih sebagai ACE of the Month selama dua bulan berturut-turut, September dan Oktober 2025, adalah sesuatu yang jujur saja tidak pernah saya targetkan sejak awal. Semua bermula dari niat sederhana: belajar dengan sungguh-sungguh, berbagi dengan tulus, dan terus hadir secara konsisten di komunitas yang penuh energi positif ini. Penghargaan ini saya terima dengan rasa syukur yang mendalam, sekaligus sebagai pengingat bahwa proses kecil yang dilakukan terus-menerus ternyata bisa berdampak besar.

Saya Tidak Mengejar Gelar Ini, Tapi Proses Membawa Saya ke Sini

Perjalanan menuju ACE of the Month tidak instan, dan tentu bukan tentang siapa yang paling menonjol. Saya memulainya dengan aktif mengikuti berbagai kegiatan komunitas: pelatihan, diskusi, berbagi praktik baik, hingga mencoba menerapkan immersive learning berbasis AR di kelas. Tidak semua berjalan mulus. Ada saat-saat mencoba, gagal, merevisi, lalu mencoba lagi. Namun justru dari proses itulah saya belajar bahwa komunitas ACE bukan hanya ruang untuk menunjukkan hasil, tetapi juga tempat aman untuk bertumbuh bersama. Saya berusaha hadir bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai pembelajar yang mau berbagi, bertanya, dan saling menguatkan.

ACE of the Month: Tentang Konsistensi, Keikhlasan, dan Komunitas

Salah satu hal yang mungkin menjadi alasan saya terpilih adalah konsistensi dan keikhlasan dalam berbagi. Saya membagikan praktik pembelajaran, refleksi, hingga cerita kecil dari kelas apa adanya—tanpa merasa harus selalu “sempurna”. Saya percaya bahwa inspirasi sering lahir dari hal-hal yang jujur dan dekat dengan realitas guru sehari-hari. Ketika kita berbagi bukan untuk diakui, tetapi untuk saling menguatkan, di situlah nilai itu terasa. Dukungan dari sesama ACE, komentar hangat, dan diskusi yang hidup menjadi bahan bakar semangat saya untuk terus bergerak.

Menjadi ACE of the Month tentu membawa banyak manfaat (benefit), bukan hanya secara simbolik. Penghargaan ini memberi saya kepercayaan diri bahwa apa yang saya lakukan berada di jalur yang tepat. Saya juga mendapatkan kesempatan lebih luas untuk terhubung, berkolaborasi, dan menjadi representasi semangat komunitas ACE. Lebih dari itu, benefit terbesarnya adalah rasa tanggung jawab—bahwa saya perlu terus menjaga semangat belajar, berbagi, dan memberi dampak positif, baik di kelas maupun di komunitas. Penghargaan ini bukan garis akhir, melainkan titik awal untuk melangkah lebih jauh.

Untuk teman-teman ACE lainnya, saya ingin berbagi satu pesan sederhana: setiap orang punya peluang yang sama untuk menjadi ACE of the Month. Tidak harus menunggu hebat dulu, tidak harus menunggu sempurna. Mulailah dari hal kecil—aktif berdiskusi, berani mencoba hal baru di kelas, berbagi cerita, dan yang terpenting, tetap konsisten. Jadilah diri sendiri, karena keunikan setiap ACE justru menjadi kekuatan komunitas ini. Percayalah, ketika kita fokus pada proses dan dampak, apresiasi akan datang dengan sendirinya, mungkin di waktu yang tidak kita duga.

Akhir kata, terima kasih yang sebesar-besarnya untuk komunitas Assemblr, tim Community Relations, dan seluruh rekan ACE yang selalu saling menguatkan. Terpilih sebagai ACE of the Month di bulan September dan Oktober 2025 adalah kehormatan, sekaligus pengingat bahwa perjalanan belajar tidak pernah selesai. Mari terus bergerak, berbagi, dan menyalakan inspirasi—karena dari satu kelas kecil, kita bisa memberi dampak besar bagi dunia pendidikan 🌱✨

#AssemblrEDU #Assemblrworld #assemblrcertifiededucator

Sinau Wayang (One Day One Wayang) #48

Batara Yama Hallo Sobat Budaya. Pecinta Wayang Jawa Sinau Wayang Part #48, Selasa Kliwon tanggal 17 Februari 2026, Rienz Kinarya melanjutkan...