Pertemuan Kedua Pelatihan Guru Seni Budaya e-guru.id: Menghadirkan Pembelajaran Interaktif dengan Assemblr EDU
Pertemuan kedua Pelatihan Guru Seni Budaya, Rabu 17 Desember 2025 yang diselenggarakan oleh e-guru.id menjadi momentum yang sangat bermakna bagi saya. Pada sesi ini, saya dipercaya sebagai narasumber tunggal untuk membawakan materi tentang pemanfaatan Assemblr EDU sebagai platform pembelajaran interaktif berbasis 3D dan Augmented Reality (AR). Kegiatan ini dipandu dengan hangat dan profesional oleh Mbak Nasywa Khairunisa dari tim e-guru.id, yang dengan pembawaan cantik, ramah, dan komunikatif membuat suasana pelatihan terasa hidup serta nyaman bagi seluruh peserta.
Dalam sesi ini, saya memperkenalkan Assemblr EDU sebagai platform all-in-one berbasis AR yang memungkinkan guru dan siswa menghadirkan pembelajaran interaktif secara sederhana melalui sistem drag-and-drop tanpa perlu kemampuan coding yang rumit. Saya menjelaskan bagaimana teknologi Augmented Reality mampu menggabungkan objek dua atau tiga dimensi ke dalam lingkungan nyata secara real time, sehingga konsep yang sebelumnya abstrak dapat terlihat lebih konkret dan mudah dipahami.
Kami juga membahas tantangan pendidikan saat ini: keterbatasan sumber daya, pembelajaran yang masih cenderung pasif, serta mahalnya teknologi visual interaktif di masa lalu. Saya menyampaikan bahwa kini teknologi yang dulu kompleks dan mahal telah menjadi lebih terjangkau dan mudah diakses oleh guru. Dengan ribuan aset 3D siap pakai, guru dapat menghadirkan visual yang menarik tanpa harus menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membuatnya.
Dalam konteks pembelajaran Seni Budaya, potensi ini sangat besar. Bayangkan siswa dapat mengeksplorasi bentuk patung 3D, mengamati detail karya seni dari berbagai sudut, atau bahkan membuat proyek kreatif berbasis AR mereka sendiri. Fitur seperti 3D/AR Editor memungkinkan guru menyesuaikan alat peraga, membuat lembar kerja interaktif, hingga menyematkan objek 3D ke dalam media presentasi. Tidak hanya itu, siswa juga dapat memanfaatkan fitur Visual Coding untuk membuat proyek interaktif berbasis blok animasi, sehingga kreativitas mereka benar-benar terwadahi.
Salah satu poin yang saya tekankan adalah bahwa teknologi bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi untuk memperkaya pengalaman belajar. Assemblr EDU membantu menghemat waktu persiapan melalui visual siap pakai, sekaligus meningkatkan keterlibatan siswa melalui aktivitas eksploratif. Dengan pembelajaran yang lebih interaktif, siswa tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, tetapi turut membangun pengalaman belajar mereka sendiri.Antusiasme peserta pada sesi ini sangat terasa. Diskusi berjalan dinamis, dengan berbagai pertanyaan seputar implementasi di kelas, integrasi dengan kurikulum, hingga strategi agar siswa tetap fokus saat menggunakan teknologi. Peran Mbak Nasywa sebagai moderator juga sangat membantu dalam mengarahkan alur diskusi, merangkum poin-poin penting, dan menjaga interaksi tetap hangat serta produktif.
Pertemuan kedua ini menegaskan bahwa transformasi pendidikan bukan sekadar wacana. Dengan kemauan untuk belajar dan beradaptasi, guru Seni Budaya pun dapat menjadi pelopor inovasi di kelasnya masing-masing. Saya menutup sesi dengan ajakan sederhana: mari eksplorasi bersama, berani mencoba, dan menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup bagi siswa kita. Karena pada akhirnya, seni dan teknologi bukanlah dua dunia yang terpisah—keduanya dapat bersinergi untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna












